web site hit counter Absolute Justice - Ebooks PDF Online
Hot Best Seller

Absolute Justice

Availability: Ready to download

Seharusnya monster itu sudah mati ….


Compare

Seharusnya monster itu sudah mati ….

30 review for Absolute Justice

  1. 4 out of 5

    Rezza Dwi

    Akhirnya aku suka konten buku Akiyoshi Rikako lagi. Aku suka buku ini bukan karena biased (Umm, tapi pasti ada sih biased dikit mah wong Akiyoshi Rikako udah jadi penulis autobuy-ku 😂) Tapi emang isinya pun oke, menurutku. Cerita dimulai saat Kazuki mendapat amplop undangan warna ungu cantik dari seseorang yang dibunuhnya lima tahun lalu. Bab pembukaan loh itu. Banyak pertanyaan di kepalaku. Kenapa Kazuki membunuh? Gimana bisa ada surat dari orang mati? Apa yang bakal terjadi pas dateng memenuhi un Akhirnya aku suka konten buku Akiyoshi Rikako lagi. Aku suka buku ini bukan karena biased (Umm, tapi pasti ada sih biased dikit mah wong Akiyoshi Rikako udah jadi penulis autobuy-ku 😂) Tapi emang isinya pun oke, menurutku. Cerita dimulai saat Kazuki mendapat amplop undangan warna ungu cantik dari seseorang yang dibunuhnya lima tahun lalu. Bab pembukaan loh itu. Banyak pertanyaan di kepalaku. Kenapa Kazuki membunuh? Gimana bisa ada surat dari orang mati? Apa yang bakal terjadi pas dateng memenuhi undangannya? Tik tok tik tok. Saking penasarannya, aku baca ini terus-terusan. Dan... ugh. Kontennya relate banget sama pertanyaan paling mendasar setiap manusia. Apa yang akan kamu pilih? Menjadi 'benar' atau menjadi 'baik'? Buku ini berhasil bikin aku ikutan kesel, ikutan sebel, dan ikutan merasa miris sama keadaan. Amanat ceritanya bagus. Buku ini nyelip jadi buku Akiyoshi Rikako yang aku suka setelah Holy Mother dan Girls in the Dark. Overall, 4🌟 dariku! Thanks to Penerbit Haru yang sudah menerjemahkan buku ini dengan baik. Kovernya juga bagusss.

  2. 4 out of 5

    omnivoreader

    Kalau gue jadi temennya Noriko, mungkin bakal ngelakuin hal sama. Kebenaran ndasmu~ Resensi lengkap: http://www.omnivoreader.com/2018/05/4... Kalau gue jadi temennya Noriko, mungkin bakal ngelakuin hal sama. Kebenaran ndasmu~ Resensi lengkap: http://www.omnivoreader.com/2018/05/4...

  3. 5 out of 5

    Sulhan Habibi

    Kesal ah. Pokoknya kesal sama Noriko. Jika aku temannya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama terhadap Noriko. Dih! Amit-amit orang seperti itu (masih kesal) . . Full review . . Seharusnya monster itu sudah mati… Membaca blurb di sampul belakang yang hanya berupa satu kalimat di atas menimbulkan rasa penasaran yang berujung ingin segera membaca buku ini. Sebelumnya aku sudah membaca tiga buku karya Akiyoshi Rikako yang diterbitkan oleh Haru. The Girls in The Dark langsung membuatku "klik" dengan ceritan Kesal ah. Pokoknya kesal sama Noriko. Jika aku temannya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama terhadap Noriko. Dih! Amit-amit orang seperti itu (masih kesal) . . Full review . . Seharusnya monster itu sudah mati… Membaca blurb di sampul belakang yang hanya berupa satu kalimat di atas menimbulkan rasa penasaran yang berujung ingin segera membaca buku ini. Sebelumnya aku sudah membaca tiga buku karya Akiyoshi Rikako yang diterbitkan oleh Haru. The Girls in The Dark langsung membuatku "klik" dengan ceritanya dan tanpa sadar membaca bukunya hanya dalam satu malam tahun 2016 lalu. Holy Mother adalah buku kedua yang aku baca dan lagi-lagi cukup membuat tercengang. Penulisan yang rapi sekali. Bahkan terjemahannya pun mampu mengecoh pembacanya. The Dead Returns buku ketiga yang aku baca. Buku ini aku baca bulan Ramadhan kemarin dan mendapatkan cerita yang menyenangkan dan termasuk tipe buku yang fast read. Aku punya Silence sih, namun belum kubaca. Segera deh. Kalau "Schedule Suicide Day" belum aku miliki. Mungkin segera juga. Membaca ulasan yang rata-rata positif terhadap buku Absolute Justice ini membuatku semakin bersemangat segera membacanya. Membaca kata monster di sampul belakang membuatku membayangkan ada sentuhan fantasi di buku terbaru Akiyoshi Rikako ini. “Wah, ada monster.” Pikirku, apalagi covernya bernuansa gelap dengan tambahan tengkorak menguatkan kesan misterius dengan sentuhan fantasi. Tentu saja aku salah besar. Absolute Justice ini tidak ada sentuhan fantasinya sama sekali. Malah buku ini tentang kehidupan sehari-hari. Tentang benar dan salah. Tentang rasa adil, maaf, dan rasa kemanusiaan. Tentang kejahatan dan balasannya. “Manusia, harus menuruti aturan. Karena itu, menangkap pelaku tindak criminal yang mengganggu adalah sesuatu yang wajar. Menerima ucapan terima kasih atas itulah yang tidak masuk akal.” – Hal.20 Jujur, agak susah mengulas buku dengan tipe cerita seperti Absolute Justice ini tanpa membocorkan cerita yang ada di dalamnya. Semakin sedikit yang kalian ketahui mengenai buku ini, maka kepuasan yang kita dapatkan semakin besar pula. Semakin banyak yang kalian tahu, bisa jadi kenikmatan yang kalian dapatkan sangat jauh berkurang. Oleh karena itu, aku tidak akan bercerita banyak mengenai cerita Absolute Justice ini. Biarlah kalian yang membaca ulasan ini dan belum membaca mencari tahu sendiri dengan segera membaca buku ini. Gaya penulisan buku ini mirip dengan “Girls in The Dark” yaitu bercerita dari beberapa sudut pandang tokoh dalam buku ini. Ada lima orang yang menjadi sahabat sejak bangku sekolah. Kazuki, Noriko, Yumiko, Riho, dan Reika. Akan ada cerita dari sudut pandang masing-masing tokoh di setiap bab. “Seratus persen benar, tanpa ada rasa toleransi dan kemanusiaan, ternyata bukanlah hal yang baik.” – Hal.159 Cerita dibuka dari sudut pandang Kazuki yang mendapatkan kartu undangan pernikahan. Mendapati pengirim dari sahabatnya yang seharusnya sudah meninggal tentu saja membuatnya terkejut. Masalahnya adalah, Noriko, temannya dulu sudah meninggal dan Kazuki lah yang membunuhnya. Kisah pun bergulir ke masa lalu dan kita akan membaca kisah yang membuat kita merenung akan kebenaran dan bagaimana masing-masing orang menanggapinya. Begitu pula dengan kisah yang dipaparkan Yumiko, Riho, dan Reika. Bagaimana kehidupan dan masalah yang mereka hadapi. Bagaimana Noriko hadir dan turut campur dalam kehidupan mereka, membuat aku sebagai pembaca meresakan desakan emosi (yang lebih banyak berwujud rasa geregetan dan kesal). Oleh karena itu, Jika kalian sering membaca manga, menonton anime atau film dari negeri Sakura, maka kalian akan cukup familiar dengan kisah dan akhir seperti Absolute Justice ini. Bagus. Aku selalu suka. Walaupun cerita yang cukup familiar dari negeri Sakura, yang membuat kisah Absolute Justice ini keren dan luar biasa adalah penokohan yang sangat kuat. Akiyoshi Rikako pandai dalam menciptakan karakter Noriko. Karakter Noriko yang menegakkan kebenaran dan berpatokan dengan “apakah perbuatan tersebut melanggar hukum atau tidak”. Begitu pula dengan empat tokoh lainnya dengan karakter mereka yang semakin menguatkan cerita dan emosi para pembaca. Empat sahabat dengan masing-masing sifat dan karakter, serta interaksi dengan Noriko yang menimbulkan konflik dan motif tindakan mereka di masa lalu diceritakan dengan sangat baik. Alur yang maju dan mundur, serta penceritaan yang tidak berulang semakin memperkuat cerita ini dan semakin memainkan emosiku sebagai pembaca. Aku sering merasa kesal sama tokoh dan kejadian di buku ini. Artinya tentu saja Akiyoshi Rikako sangat berhasil membuat cerita dengan karakter yang kuat di dalamnya. Selama membaca aku pun memiliki keputusanku sendiri jika berhadapan dengan kebenaran versi Noriko. Keputusan yang (mungkin) akan diambil juga oleh orang lain dalam situasi yang sama. “Apakah kebenaran yang sempurna itu hal yang barbar, keras, dan jahat? Di sana tidak ada celah sedikit pun bagi kebaikan dan pengertian untuk masuk.” – Hal.226 Hal yang aku tangkap dari cerita ini adalah bahwa kebenaran itu bukanlah segalanya, kebenaran itu suatu hal yang baik namun bukanlah suatu hal yang mutlak dan menjadi patokan dalam menghukum orang yang bersalah. Hukum di dunia dibuat oleh manusia, tidak seratus persen benar dan sempurna. Selain hukum tertulis, masih ada hukum adat, sosial, hukuma moral, dan juga tentu saja agama. Selain hubungan dengan sang maha Pencipta, ada hubungan dengan sesame manusia dan juga alam sekitar. Tidak akan menghasilkan hal yang benar jika kita menegakkan kebenaran atas dasar persepsi kebeneran kita sendiri. Pada akhirnya, kisah Absolute Justice ini akan membuatmu memikirkan kebenaran itu apa, bagaimana kita menghadapinya, bagaimana kita menilainya, dan tentu saja membuat kita merenungi bahwa hakikat rasa kemanusiaan itu seperti apa di hadapan keadilan. Namun, tentu saja pada akhirnya buku ini akan mengatakan “Kebenaran itu hebat. Kebenaran adalah… segalanya.” – Hal. 251 Aku suka buku ini dan merasa PUAS.

  4. 5 out of 5

    Aya

    Sekarang gue ngerti kenapa orang-orang pada kesel baca novel satu ini 😂 Pertama, sinopsis di belakangnya cuma ada satu kalimat "Seharusnya monster itu sudah mati." Mau ngebayangin apa dari sinopsis kayak gitu 🙈 tapi di sisi lain, memang sangat mengundang rasa penasaran untuk baca ceritanya. Alurnya maju mundur, tapi gue nyaman bacanya. Perbedaan waktu antara satu alur dan lainnya, jelas, jadi pembaca paham apa yang terjadi dan kapan. Terjemahannya juga enak (jauh berbeda dari novel jepang yang gue Sekarang gue ngerti kenapa orang-orang pada kesel baca novel satu ini 😂 Pertama, sinopsis di belakangnya cuma ada satu kalimat "Seharusnya monster itu sudah mati." Mau ngebayangin apa dari sinopsis kayak gitu 🙈 tapi di sisi lain, memang sangat mengundang rasa penasaran untuk baca ceritanya. Alurnya maju mundur, tapi gue nyaman bacanya. Perbedaan waktu antara satu alur dan lainnya, jelas, jadi pembaca paham apa yang terjadi dan kapan. Terjemahannya juga enak (jauh berbeda dari novel jepang yang gue baca sebelum ini dan akhirnya gue kasih rating rendah). Penulisnya bisa banget nyuguhin karakter yang menyebalkan tapi sekaligus bikin dilema. Paham banget gimana perasaan teman-teman dari tokoh 'itu'. Twistnya juga menarik. Bukan twist yang bikin kaget banget, karena memang dari awal kita udah disodorin berbagai macam 'keanehan' dari tokoh 'itu'. Jadi ketika alur cerita menuju ke arah tersebut, ga heran tapi tetep ... kesel. Kalau gue pribadi sih, pengen tahu cerita dari sudut pandang si tokoh 'itu'. Karena agak kurang diceritain di sini.

  5. 5 out of 5

    Ari

    Gw bingun mau nge-rate buku ini.... Sure, it's a turner pages book, ceritanya menarik, plotnya juga enak bahkan dengan alur maju mundurnya tidak mengurangi kenyamanan dan suspense nya... TAPIIIIIIIIIIIIIII...... Gw benci banget buku ini! Belum pernah ada cerita yang bikin gw seemosi ini. Awalnya gw cuma emosi ama Noriko, tapi kenaifan dan kebodohan teman-teman Noriko lama-kelamaan getting on my nerves! Like.... mereka temenan dari SMA, udah banyak insiden yang melibatkan mereka dan Noriko, tapi tetep Gw bingun mau nge-rate buku ini.... Sure, it's a turner pages book, ceritanya menarik, plotnya juga enak bahkan dengan alur maju mundurnya tidak mengurangi kenyamanan dan suspense nya... TAPIIIIIIIIIIIIIII...... Gw benci banget buku ini! Belum pernah ada cerita yang bikin gw seemosi ini. Awalnya gw cuma emosi ama Noriko, tapi kenaifan dan kebodohan teman-teman Noriko lama-kelamaan getting on my nerves! Like.... mereka temenan dari SMA, udah banyak insiden yang melibatkan mereka dan Noriko, tapi tetep aja mereka punya pembenaran atas semua kelakuan Noriko yang kebablasan. Apalagi namanya kalo bukan BEGOOOO! Even anak Noriko dari SD udah planed her murder, meski gagal Anak SD lebih punya OTAK daripada perempuan-perempuan dewasa ini! Kemudian endingnya... Gw ngerasa Akiyoshi nulis cerita ini emang cuma niat buat bikin emosi pembacanya, dia gak kasih closure yang proper buat pembela-kebenaran-yang-kebablasan. Yah bikin kek semacam karma gitu -.- (dikira sinetron hidayah indosiar.... :p) Terus apa-apaan itu cerita tambahan tentang anjing liar?!!!! As if gak cukup bikin emosi sepanjang 268 halamannnnn?!!! fiuhhhh... You know what, tiap kali gw mau ngelanjutin baca buku ini gw mesti tarik nafas dulu, calm myself down first.... Jadi gw putusin buat gak nge-rating buku ini Still it's a good book, Akiyoshi did it again, dia lagi-lagi menampilkan tema yang berbeda dari cerita2 dia sebelumnya TAPI GW GAK MAU KASIH RATING!!!!

  6. 4 out of 5

    Dyah

    When justice is asserted without mercy or compassion, what will the world become? • Hebat sekali Rikako-sensei dapat membuat sesosok monster yang luar biasa mengesalkan dalam buku ini...sampai-sampai aku pun ingin ikut membunuhnya. • Absolute Justice mengisahkan sesosok monster dari sudut pandang keempat korbannya. Laju cerita cukup cepat dan membuat pembaca tak sabar untuk mengetahui endingnya. Endingnya sendiri cukup oke menurutku. Maaf aku ngga bisa cerita banyak, khawatir spoiler, mendingan teman-t When justice is asserted without mercy or compassion, what will the world become? • Hebat sekali Rikako-sensei dapat membuat sesosok monster yang luar biasa mengesalkan dalam buku ini...sampai-sampai aku pun ingin ikut membunuhnya. • Absolute Justice mengisahkan sesosok monster dari sudut pandang keempat korbannya. Laju cerita cukup cepat dan membuat pembaca tak sabar untuk mengetahui endingnya. Endingnya sendiri cukup oke menurutku. Maaf aku ngga bisa cerita banyak, khawatir spoiler, mendingan teman-teman baca dan nikmati sendiri kekesalannya...eh, keseruannya. • Moral of the story: don't let a monster breed.

  7. 5 out of 5

    Aravena

    Anti-villain: a villain with heroic goals, personality traits, and/or virtues. (*dari situs TV Trope) Ini buku kelima dari Akiyoshi Rikako yang saya baca…. dan kali ini, sinopsis cover belakangnya sangat pelit informasi. Hanya satu kalimat, yang seakan-akan menantang, ”Ayo, ayo, penasaran kan isinya tentang apa? Penasaran kan ‘monster’ di sini maksudnya apa?” Hahaha… dan seperti sebelum-sebelumnya, saya membabat habis buku ini dalam kurang dari dua hari dengan bahan bakar berupa rasa penasaran. Anti-villain: a villain with heroic goals, personality traits, and/or virtues. (*dari situs TV Trope) Ini buku kelima dari Akiyoshi Rikako yang saya baca…. dan kali ini, sinopsis cover belakangnya sangat pelit informasi. Hanya satu kalimat, yang seakan-akan menantang, ”Ayo, ayo, penasaran kan isinya tentang apa? Penasaran kan ‘monster’ di sini maksudnya apa?” Hahaha… dan seperti sebelum-sebelumnya, saya membabat habis buku ini dalam kurang dari dua hari dengan bahan bakar berupa rasa penasaran. Jadi, keunggulan utama novel ini adalah gambaran sosok anti-villain yang efektif. Walaupun bukan merupakan narator atau protagonis, sosok ini sangat mendominasi isi bukunya. Plot, konflik, tema, hingga struktur—semua elemen narasi berputar di sekelilingnya, dan kelakuannya juga sangat ampuh memancing emosi dari pembaca. Entah berapa kali saya geleng-geleng kepala, ketawa guling-guling, atau bahkan nyaris melempar bukunya, saking edannya sepak terjang si tokoh yang satu ini. Ada beberapa titik lemah yang muncul karena hal itu. Pertama, ada kesan repetitif karena banyak penekanan tentang hal yang sama, meski diceritakan dari beberapa sudut pandang. Kedua, saking dominannya sang tokoh sentral, penokohan karakter-karakter lainnya jadi terasa lemah atau kurang mendalam. Ketiga, ada kesan bahwa si tokoh tersebut terlampau dipaksakan untuk dibenci oleh pembaca, padahal penokohannya dan prinsip yang diwakili oleh dirinya bisa dibuat lebih halus dan abu-abu. Namun, pada akhirnya saya tetap merasa judul ini istimewa. Kesimpulan ceritanya memang tak terduga (seperti biasa), tapi alih-alih twist-nya, saya lebih terkesan oleh penceritaan epilog dan cerpen tambahan (view spoiler)[yang ternyata masih berkaitan dengan cerita utamanya (hide spoiler)] . Ada endapan psikologis mencekam yang tertinggal, dan sukses membuat saya kepikiran semalaman setelah menyelesaikan bukunya. Ada pertanyaan.... apa karena saya tumbuh di lingkungan negara yang terkenal permisif terhadap hukum, penolakan untuk menyimpang dari peraturan barang sedikit pun jadi terasa amat menyebalkan? Apa kita terlalu sering menggunakan ‘faktor kemanusiaan’ sebagai justifikasi untuk menyimpang dari peraturan, padahal alasan sebenarnya adalah untuk keuntungan pribadi? .....dan di lain sisi, saya juga tersadar bahwa semakin banyak sosok 'Pahlawan Pembela Kebenaran' yang muncul di sekitar kita, mereka yang menggunakan hukum/peraturan tertulis sebagai senjata untuk melakukan persekusi dan mengganyang pihak-pihak tertentu, baik untuk memajukan agenda pribadi/golongan..... maupun sekadar untuk kepuasan batin karena sudah berhasil 'menegakkan kebenaran dan keadilan'.

  8. 4 out of 5

    Vie

    Pertama-tama, buku ini cocok banget bagi yang ingin melepas kangen dan merasakan aroma thriller sejenis Girls in the Dark (karya Akiyoshi Rikako yang terdahulu) sekali lagi. Menurut saya, ini buku yang paling mirip dengan Girls in the Dark. Alur penceritaannya mirip, diceritakan dari sudut pandang empat wanita yang merupakan sahabat karib dari Noriko Takaki, sang Absolute Justice. Satu per satu kisah pertemanan pribadi mereka dengan Noriko dikupas. Apa yang mereka sukai dari Noriko dan apa yang m Pertama-tama, buku ini cocok banget bagi yang ingin melepas kangen dan merasakan aroma thriller sejenis Girls in the Dark (karya Akiyoshi Rikako yang terdahulu) sekali lagi. Menurut saya, ini buku yang paling mirip dengan Girls in the Dark. Alur penceritaannya mirip, diceritakan dari sudut pandang empat wanita yang merupakan sahabat karib dari Noriko Takaki, sang Absolute Justice. Satu per satu kisah pertemanan pribadi mereka dengan Noriko dikupas. Apa yang mereka sukai dari Noriko dan apa yang membuat mereka benci. Misteri telah diungkap dari bab-bab awal, tetapi tidak mengurangi rasa penasaran saya untuk mengetahui bagaimana kisah mereka selama bertahun-tahun. Semua memiliki masalahnya masing-masing. Buku ini lebih menekankan ke sisi thriller dibandingkan dengan misteri. Tidak ada plot yang spesial seperti pada Holy Mother tetapi plot twist-nya cukup membuat saya merinding disko waktu membaca di jam satu pagi. Seperti biasanya, gaya penulisan Akiyoshi yang misterius mampu membius saya untuk terus membaca chapter demi chapter. Satu lagi, judul Absolute Justice ini sangat "mencerminkan" cerita dari novel ini, seperti judul Holy Mother yang benar-benar menceritakan tentang "ibu yang suci". Saya suka dengan judul yang sangat bermakna dibalik Absolute Justice. Dan tentunya, ini menjadi buku Akiyoshi favorit kedua setelah Holy Mother. Good job, sensei! Thank you Penerbit Haru, ditunggu selalu terjemahan buku Akiyoshi Rikako berikutnya. :)

  9. 5 out of 5

    Biondy

    Absolute Justice bercerita tentang Kazuki yang berteman dengan Noriko setelah Noriko menolongnya dari pelaku pelecehan seksual. Awalnya Kazuki mengagumi rasa keadilan di dalam diri Noriko yang begitu luar biasa, tapi pelan-pelan dia merasa ada sesuatu yang salah dengan keadilan yang Noriko miliki. Puluhan tahun setelahnya, Kazuki menerima undangan pernikahan dari Noriko. Hal ini membuat Kazuki takut dan menghubungi ketiga sahabatnya: Yumiko, Riho, dan Reika. Bersama ketiga sahabatnya sejak masa s Absolute Justice bercerita tentang Kazuki yang berteman dengan Noriko setelah Noriko menolongnya dari pelaku pelecehan seksual. Awalnya Kazuki mengagumi rasa keadilan di dalam diri Noriko yang begitu luar biasa, tapi pelan-pelan dia merasa ada sesuatu yang salah dengan keadilan yang Noriko miliki. Puluhan tahun setelahnya, Kazuki menerima undangan pernikahan dari Noriko. Hal ini membuat Kazuki takut dan menghubungi ketiga sahabatnya: Yumiko, Riho, dan Reika. Bersama ketiga sahabatnya sejak masa sekolah itu, Kazuki berusaha menemukan siapa yang berpura-pura menjadi Noriko, wanita yang telah mereka bunuh itu. "Pokoknya aku tidak punya minat pada hal lain selain hal yang benar. Dan aku tidak bisa memaafkan kesalahan." -Noriko (hal. 39) Novel yang sungguh mengaduk perasaan. Rasanya siapa saja yang membaca novel ini bisa paham kenapa Kazuki, Yumiko, Riho, dan Reika sampai membunuh Noriko. Yah, kecuali kalau kamu punya tunnel vision tentang keadilan seperti Noriko. Saya yang baca saja rasanya gemas dengan Noriko yang memandang hidup dengan sebuah lensa hitam-putih. Hanya ada benar atau salah bagi Noriko. Noriko bukan orang jahat. Tidak, tidak salah lagi, ia orang yang baik karena selalu melakukan hal yang benar. (hal. 61) Sebenarnya novel ini tidak terlalu berat ke unsur thriller-nya. Ceritanya tidak berupa kisah detektif yang mencari petunjuk dan mengungkapkan teka-teki, tapi lebih kepada kehidupan para tokohnya serta hubungan mereka dengan Noriko. Bagaimana keempat wanita yang adalah sahabat Noriko bisa menyukai dan percaya dengan Noriko, tapi kemudian bersama-sama membunuhnya. Secara keseluruhan, Absolute Justice adalah novel yang mampu mengaduk perasaan pembaca. Di satu sisi ingin mendukung penegakan hukum dan keadilan yang Noriko miliki, tapi di sisi lain juga membuat pembaca bertanya mengenai bagaimana sebaiknya hukum dan keadilan itu ditegakkan.

  10. 5 out of 5

    Lunar Angel

    BUKU TERMENYEBALKAN YANG PERNAH AKU BACA!!! Ya, aku sampai menulisnya dengan huruf kapital karena buku ini semenyebalkan itu. Karakter Noriko yang akan membuat kita sebal dari awal hingga akhir membaca buku ini. Argh, rasanya ingin membanting bukunya karena saking keselnya sama tokoh Noriko. Hmm, Absolute Justice (kebenaran yang absolut) Buku yang sangat menguras emosi pembacanya untuk tetap sabar. Buku ini diceritakan dari beberapa sudut pandang yaitu Kazuki,Yumiko,Riho dan Reika. Mereka semua ada BUKU TERMENYEBALKAN YANG PERNAH AKU BACA!!! Ya, aku sampai menulisnya dengan huruf kapital karena buku ini semenyebalkan itu. Karakter Noriko yang akan membuat kita sebal dari awal hingga akhir membaca buku ini. Argh, rasanya ingin membanting bukunya karena saking keselnya sama tokoh Noriko. Hmm, Absolute Justice (kebenaran yang absolut) Buku yang sangat menguras emosi pembacanya untuk tetap sabar. Buku ini diceritakan dari beberapa sudut pandang yaitu Kazuki,Yumiko,Riho dan Reika. Mereka semua adalah sahabat Noriko semasa SMA. (hmm hampir mirip girls in the dark ya) Pahlawan kebenaran atau monster yang mengatasnamakan kebenaran? Overall kesel banget sama ceritanya

  11. 4 out of 5

    Olivia

    "Seharusnya monster itu sudah mati..." Dengan satu baris blurb berisikan kata "monster", saya langsung berasumsi kalau buku ini akan memiliki style yang serupa dengan Silence (walau itu tidak mengurangi keinginan saya untuk tetap membeli buku ini- ya, Akiyoshi Rikako merupakan salah satu author autobuy untuk saya). Namun rupanya, setelah saya mulai membacanya, buku ini jauh lebih mirip dengan Girls in the Dark. Dimulai dari alur yang digunakan pada Absolute Justice, di mana pembaca akan dibawa unt "Seharusnya monster itu sudah mati..." Dengan satu baris blurb berisikan kata "monster", saya langsung berasumsi kalau buku ini akan memiliki style yang serupa dengan Silence (walau itu tidak mengurangi keinginan saya untuk tetap membeli buku ini- ya, Akiyoshi Rikako merupakan salah satu author autobuy untuk saya). Namun rupanya, setelah saya mulai membacanya, buku ini jauh lebih mirip dengan Girls in the Dark. Dimulai dari alur yang digunakan pada Absolute Justice, di mana pembaca akan dibawa untuk melihat masa lalu/latar belakang dari keempat tokoh utamanya. Kemudian, inti permasalahan pada Absolute Justice yang berakar pada sesosok "monster". Namun tentunya, tidak berarti kalau tidak ada bedanya antara membaca Girls in the Dark dan Absolute Justice. Menurut saya, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Girls in the Dark lebih terasa kelam dan gelap- lebih kental akan misterinya, sementara Absolute Justice tidak membuat saya merasakan ketegangan tersebut. Namun di sisi lain, saya merasa kalau Absolute Justice ini lebih- "dinamis", bisa dikatakan. Mungkin hal tersebut dikarenakan karakter yang ada di dalamnya masih tetap diceritakan berusaha "melangkah" di masa kininya, tidak seperti pada Girls in the Dark di mana fokus dari cerita sepenuhnya ada di masa lalu dan para karakternya hanya dapat "duduk manis" mendengarkan. Absolute Justice sendiri, bercerita tentang bagaimana keempat tokoh utama: Kazuki, Yumiko, Riho, dan Reika menghabiskan masa lalu mereka dengan sesosok yang mereka anggap monster: Noriko. Keempatnya bertemu Noriko pada saat mereka masih bersekolah, dan pada saat itu mereka "tidak sengaja" terlanjur bersahabat dengan Noriko tanpa mengetahui 'bahaya'nya. Bahaya apa? Bahaya bahwa Noriko adalah "monster" keadilan; sang "absolute justice" yang tidak mempedulikan hal apapun selain kebenaran, termasuk perasaan dan alasan mereka melakukan sesuatu. Bagi Noriko, aturan harus selalu ditepati; kesalahan sekecil apapun harus ditindak. Tidak ada ruang toleransi. Dan kini, lima tahun sejak terakhir kali keempatnya bertemu dengan Noriko, Kazuki tiba-tiba saja menerima sebuah surat berwarna ungu muda dari Noriko. Namun Kazuki yakin... kalau Noriko seharusnya sudah mati- karena ia sendiri yang telah membunuhnya. Memang tidak banyak "misteri" yang memberikan saya tanda tanya selama membacanya- kecuali mungkin seperti bagaimana Kazuki sudah membunuh Noriko? Namun, saya pun sama sekali tidak dapat berhenti membaca buku ini. Dalam one-sitting, saya berhasil menyelesaikan buku ini saking penasarannya untuk membalik halaman setiap kali saya selesai membaca satu halaman. Saya juga menyukai tema yang diangkat dalam Absolute Justice, yang juga dapat menjadi sebuah "perenungan" bagi pembacanya: sejauh manakah "kebenaran" itu harus ditegakkan? Apakah harus segala "rasa" disingkirkan hanya demi kebenaran? Apakah membawa pulang alat tulis kantor harus dihitung sebagai "korupsi", dalam contoh ekstrimnya? Saya ikut dapat merasakan kebimbangan dari Kazuki dan teman-temannya, yang terombang-ambing antara "Ya, Noriko memang benar. Aku tahu yang kulakukan itu salah, tapi menganggap itu tidak masalah untuk dilakukan karena merasa itu hal yang sepele." dan "... gila. Gila, apakah memang harus sebegitunya? Bukankah itu dilakukan untuk tujuan yang lebih baik? Masak tidak boleh?". Sementara itu, untuk masalah ending dan twist, kali ini bisa dikatakan keduanya lebih mudah untuk ditebak dibandingkan dengan Girls in the Dark dan Holy Mother. Tidak begitu susah untuk menyambungkan satu dengan satu dan menjadikannya dua, namun tetap saja ada bagian yang pada akhirnya membuat... merinding. Overall, saya cukup puas dengan karya Akiyoshi Rikako yang satu ini secara objektif. Namun secara subjektif, sebenarnya ada sedikit kekecewaan karena harapan saya yang lebih tinggi; karena saya masih mengharapkan sesuatu yang berbeda dari Girls in the Dark namun memiliki kesan "WAH" yang sama- seperti Holy Mother, misalnya. Final Rating: 4/5

  12. 5 out of 5

    Meiliana Kan

    Lagi-lagi, rasanya aku kepingin sungkem sama Akiyoshi Rikako sensei. Saat selesai membaca dan menutup buku ini rasanya ada kekaguman yang aneh, "Wah kok bisa terpikir cerita seperti ini?" Pertanyaan yang sama seperti saat aku selesai membaca 3 buku Akiyoshi Rikako sebelumnya pun kembali muncul. Saat membaca buku ini aku merasa dilema dan kegelisahan yang timbul tenggelam, terutama karena adanya sosok yang disebut-sebut sebagai monster di sinopsis buku yang hanya satu kalimat. Lalu, sebenarnya jug Lagi-lagi, rasanya aku kepingin sungkem sama Akiyoshi Rikako sensei. Saat selesai membaca dan menutup buku ini rasanya ada kekaguman yang aneh, "Wah kok bisa terpikir cerita seperti ini?" Pertanyaan yang sama seperti saat aku selesai membaca 3 buku Akiyoshi Rikako sebelumnya pun kembali muncul. Saat membaca buku ini aku merasa dilema dan kegelisahan yang timbul tenggelam, terutama karena adanya sosok yang disebut-sebut sebagai monster di sinopsis buku yang hanya satu kalimat. Lalu, sebenarnya juga aku merasa sedikit relate dengan sosok monster itu, yang terus terngiang-ngiang dan meninggalkan sensasi aneh di akhir cerita. Kebenaran, ya? Dari dulu aku selalu dijuluki sebagai orang yang sangat lurus oleh teman-temanku, ternyata ada yang jauh lebih lurus daripada aku, tapi lurusnya brutal. Dan aku setuju dengan kata-kata Riho yang mengatakan bahwa kebenaran Noriko terlalu vulgar dan kelewat batas. "Kebenaran itu tidak memedulikan tempat, tidak memedulikan siapa orangnya, menunjukkan kebenaran tanpa etika, kebenaran yang memaksa. Orang-orang hanya bisa menunduk di hadapan kebenaran yang telanjang bulat tanpa mengenakan pakaian yang bernama fleksibilitas dan kepedulian." Lalu, setelah selesai membaca buku ini, aku juga jadi bertanya-tanya, "Kebenaran itu sebenarnya apa, sih?" (view spoiler)[Kalau definisi kebenaran menurut Noriko jelas adalah segala hal yang tidak melanggar hukum. Karena euthanasia, bunuh diri, dan aborsi itu tidak melanggar hukum maka menurut Noriko hal itu bisa dibenarkan. Tapi, bagaimana dengan kebenaran dari sudut pandang kemanusiaan? Lagi pula, hukum itu kan tidak 100% tidak bercelah. (hide spoiler)] Selama membaca buku ini, aku membayangkan Noriko sebagai iblis alih-alih monster. Kenapa? Karena dia seolah terlihat baik di depan dan care dengan teman-temannya, tapi nyatanya.. Yah minta dicekik sih emang.. Dan lagi ada beberapa bagian yang membuatku bertanya-tanya, "Noriko ini sebenarnya menyuarakan kebenaran atau menyuarakan pembenaran, sih?" Noriko.. Noriko.. Kok bisa Akiyoshi Rikako sensei menciptakan karakter "menarik" yang begitu meninggalkan bekas seperti itu. Sebenarnya aku agak penasaran dengan karakter Noriko dan ingin tahu juga kenapa dia bisa membentuk idealisme seperti itu. Karena di buku ini, karakter Noriko hanya diceritakan dari sudut pandang teman-temannya. Eh, tapi dari cerita mereka saja sudah bikin aku kesal setengah mati dengan Noriko. (view spoiler)[Lalu, aku juga bertanya-tanya kenapa Noriko bisa tahu semua hal sedetail itu, ya? Apa dia memang sengaja menghapal pasal-pasal tindak kejahatan dan kode sipil sebagai persiapan kalau-kalau ada hal "menarik" yang tertangkap matanya? Sebentar, sebenarnya apa yang dilakukan Noriko bisa dikatakan sebagai melanggar privasi orang kan karena gak jarang dia ikut campur urusan temannya tanpa diminta, gak jarang juga dia maksa karena dia bilang kalau apa yang dia lakukan itu tidak melanggar hukum. Tapi, mungkin di Jepang (seperti negara Asia kebanyakan) gak ada hukum yang mengatur kode etik tentang privasi secara tegas, ya. (hide spoiler)] 4.5. bintang aku berikan untuk buku ini. Plot twistnya? Tetap ada, dong. Gak yang bertebaran di mana-mana seperti Holy Mother atau yang bikin melongo kaget seperti Girls in the Dark, tapi plot twistnya membuatku merasa bergidik ngeri.. Mantap..

  13. 5 out of 5

    Lelita P.

    Thrilling. Dari awal sampai hampir akhir pembaca dibuat tenggelam habis-habisan di dalam ceritanya--seperti biasa Akiyoshi Rikako-sensei selalu bisa menghanyutkan pembacanya dengan gaya penceritaan yang menarik. A real page turner, selesai dalam beberapa jam saja. Saya nggak ingat kapan terakhir kali baca buku yang bikin saya deg-degan sendiri karena merinding dan ketakutan sampai takut membalik halaman tapi penasaran.................... Sosok Noriko, antagonis sejati. Kagum banget sama Akiyoshi-s Thrilling. Dari awal sampai hampir akhir pembaca dibuat tenggelam habis-habisan di dalam ceritanya--seperti biasa Akiyoshi Rikako-sensei selalu bisa menghanyutkan pembacanya dengan gaya penceritaan yang menarik. A real page turner, selesai dalam beberapa jam saja. Saya nggak ingat kapan terakhir kali baca buku yang bikin saya deg-degan sendiri karena merinding dan ketakutan sampai takut membalik halaman tapi penasaran.................... Sosok Noriko, antagonis sejati. Kagum banget sama Akiyoshi-sensei yang bisa menciptakan karakter seperti Noriko. Mengerikan. Terobsesi kebenaran. Annoying di tingkat yang nggak pernah ada karakter lain yang meninggalkan kesan seperti itu. Luar biasa. Akiyoshi-sensei sangat berhasil menyajikan kompleksitas perasaan Kazuki, Yumiko, Riho dan Reika terhadap Noriko. Bagaimana awalnya simpati, bagaimana kemudian mempertanyakan, bagaimana kemudian merasa tidak nyaman, tapi akhirnya menyalahkan diri sendiri karena Noriko memang selalu benar, hingga kemudian tak tahan lagi dan meledak. Tentu saja pembaca mengerti dan berpihak pada keempat sahabat itu. Dunia yang sudah gila begini tidak butuh orang seperti Noriko. Kebenaran Noriko terlalu vulgar, sampai membuat mata ingin berpaling darinya. Kebenaran itu tidak memedulikan tempat, tidak memedulikan siapa orangnya, menunjukkan kebenaran tanpa etika, kebenaran yang memaksa. Orang-orang hanya bisa menunduk di hadapan kebenaran yang telanjang bulat tanpa mengenakan pakaian yang bernama fleksibilitas dan kepedulian. (hal 160) Novel yang sangat mendalam dalam menyoroti hitam putih kehidupan. Saya salut sekali bagaimana Akiyoshi-sensei menyampaikan bahwa dunia ini semestinya abu-abu, bukan hanya soal benar dan salah karena setiap manusia punya alasan di balik tindakan-tindakannya yang barangkali tidak sesuai norma dan aturan--sesuatu yang harus didengarkan dan dipahami dulu, bukannya langsung dihakimi. Menjadi benar belum tentu baik. Sebagai orang yang masih terus-menerus belajar untuk menjadi perseptif, memahami orang lain, dan tidak menghakimi, saya ngeri sekali andaikan sosok seperti Noriko benar-benar ada di dunia ini. Sebagaimana analogi dalam buku ini: pahlawan berhasil mengalahkan monster jahat, tapi pertarungan mereka itu menghancurkan kota. Jadi bisakah dibilang pahlawan itu sama saja dengan monster? (jadi ingat isu ini diangkat dalam Captain America Civil War, haha) Noriko gila. Keberadaannya hingga saat ini pun masih menghantui kepala saya. Novel ini mungkin tidak mengandung twist gila seperti Holy Mother atau Girls in the Dark, tapi meninggalkan annoying aftertaste yang luar biasa dan perasaan merinding yang sulit dihilangkan. Isu dan ceritanya pun begitu melekat di pikiran. Yah, meskipun diakhiri dengan ending yang tidak terlalu memuaskan--setelah cerita yang begitu intens dari empat sudut pandang, lalu akhirnya begitu doang? Namun, novel ini bisa masuk ke salah satu jajaran teratas novel terbaik Akiyoshi-sensei setelah dua judul yang saya sebutkan tadi. Ngomong-ngomong, sampulnya seram banget. Saya selalu menaruh buku ini di kasur dalam posisi terbalik--sampul belakangnya di depan. Tapi sampul belakangnya--dan blurb yang cuma sebaris itu--juga seram.......................

  14. 5 out of 5

    Harumichi Mizuki

    Siapa yang sudah bikin klub buat haters-nya Noriko? Aku mau daftar. Ini mungkin novel karya Akiyoshi Rikako yang paling bikin kepingin terus misuh-misuh. Ada nggak ya orang kaya Noriko di dunia nyata? Amit-amit dah jangan sampai ketemu sama psikopat kayak gini. Jadi was-was, jangan-jangan ada juga satu-dua orang pembaca yang setuju sama sikap Noriko. *lirik kanan-kiri dengan cemas. Tapi ada yang aneh. Mau sememuja apa pun pada kebenaran, Noriko kan manusia biasa. Masak dia bisa sesempurna itu dal Siapa yang sudah bikin klub buat haters-nya Noriko? Aku mau daftar. Ini mungkin novel karya Akiyoshi Rikako yang paling bikin kepingin terus misuh-misuh. Ada nggak ya orang kaya Noriko di dunia nyata? Amit-amit dah jangan sampai ketemu sama psikopat kayak gini. Jadi was-was, jangan-jangan ada juga satu-dua orang pembaca yang setuju sama sikap Noriko. *lirik kanan-kiri dengan cemas. Tapi ada yang aneh. Mau sememuja apa pun pada kebenaran, Noriko kan manusia biasa. Masak dia bisa sesempurna itu dalam menjalankan hukum-hukum yang ada? Pinginnya sih ada bagian waktu dia ngelakuin kesalahan and taste her own medicine. Terus di Jepang apa nggak ada hukum atau pasal untuk perbuatan tak menyenangkan, teror, dan mengorek-korek kehidupan pribadi orang lain seperti yang dilakukan Noriko? Dan kalau baca soal hukum-hukum di novel ini, hukum pajak di Jepang itu ribet, ya. Sampai ada yang untuk pajak donasi segala. Masa donasi dikasih pajak? *atau di sini sebenarnya juga ada? BERSAMBUNG

  15. 4 out of 5

    nur'aini tri wahyuni

    karena penulis dan penerbit ga ngasih sinopsis apapun di belakang bukunya, jadi review kita sesuaikan juga. this book just the type that i don't want to put it down before i finish it. p.s. yg udah baca, ada ga yg suka dengan karakter Noriko? :)) karena penulis dan penerbit ga ngasih sinopsis apapun di belakang bukunya, jadi review kita sesuaikan juga. this book just the type that i don't want to put it down before i finish it. p.s. yg udah baca, ada ga yg suka dengan karakter Noriko? :))

  16. 5 out of 5

    Yessie L. Rismar

    Sebel, kesel, marah. Semua campur jadi satu.

  17. 5 out of 5

    Prahasti

    Pas selesai baca, jadi paham kenapa bagian blurb novel ini hanya menulis kalimat, "Seharusnya monster itu sudah mati..." sekali lagi suka dengan karyanya akiyoshi rikako. Pas selesai baca, jadi paham kenapa bagian blurb novel ini hanya menulis kalimat, "Seharusnya monster itu sudah mati..." sekali lagi suka dengan karyanya akiyoshi rikako.

  18. 5 out of 5

    Nining Sriningsih

    "kebenaran adalah yang terpenting di dunia ini" sadiiiiis.. berkali-kali dibikin tercengang sama sikap Noriko.. kl q jd teman"y Noriko, mungkin akan melakukan hal yg sama terhadap Noriko.. XD "kebenaran adalah yang terpenting di dunia ini" sadiiiiis.. berkali-kali dibikin tercengang sama sikap Noriko.. kl q jd teman"y Noriko, mungkin akan melakukan hal yg sama terhadap Noriko.. XD

  19. 5 out of 5

    Sylvia

    Dari 3 novel Akiyoshi Rikako yang sebelumnya aku baca (Girls in The Dark, Holy Mother dan The Dead Return). Aku merasa novel ini memiliki tingkat emosi yang setara dengan Holy Mother, dengan gaya bercerita Girls in The Dark dan tidak seringan The Dead Return. Novel ini kompleks. Membuat geram disetiap lembarnya, parahnya semakin ke belakang ada rasa ingin selalu berkata kasar dengan Noriko. Meskipun secara alur bisa dibilang biasa, tapi penulis mempermainkan perasaan pembaca melalui tokoh. Tokoh Dari 3 novel Akiyoshi Rikako yang sebelumnya aku baca (Girls in The Dark, Holy Mother dan The Dead Return). Aku merasa novel ini memiliki tingkat emosi yang setara dengan Holy Mother, dengan gaya bercerita Girls in The Dark dan tidak seringan The Dead Return. Novel ini kompleks. Membuat geram disetiap lembarnya, parahnya semakin ke belakang ada rasa ingin selalu berkata kasar dengan Noriko. Meskipun secara alur bisa dibilang biasa, tapi penulis mempermainkan perasaan pembaca melalui tokoh. Tokoh Noriko begitu hidup dan tak ingin melihat dia hidup-hidup (egimana). Dengan alur maju mundur seakan aku memasuki isi kepala 4 tokoh lain saat mengingat Noriko, aku merasa ada beberapa part di mana penulis mengurangi temponya menjadi lambat. Yang bisa dibilang cenderung membuat bosan saat baca, lalu penulis mempercecpat lagi temponya untuk membangkitkan lagi rasa penasaran. Beberapa waktu lalu, saat membaca Holy Mother semua dugaanku mengenai ending terbantahkan. Dan benar-benar diluar dugaan, gak ada satupun yang sedikitnya terbersit bahwa akan seperti itu, membuta kesal dengan endingnya yang gila. Di novel ini, memang gak ada ending segila Holy Mother. Saat ending aku cuma bisa bekatar “oh jadi gitu,” tanpa ada rasa terkejut sama sekali. Hal ini berimbang dengan pemaparan cerita menuju ending yang sudah menguras emosi. Gak kebayang jika di ending tante Akiyoshi memunculkan sebuah kejutan, mungkin akan aku lempar bukunya. Haha Tapi perasaan lega saat bertemu ending tidak sirna begitu saja, ketika kalian membaca bagian epilog. Emosi kembali memuncak, ubun-ubun udah mulai panas, kata-kata umpatan udah siap meluncur gitu aja. (Reemes bukunya) Kenapa Akiyoshi selalu menulis hal yang bikin mengumpat tapi bagus sih? Intinya … “Orang ini sama sekali tidak punya rasa cinta. Yang dicintainya hanya kebenaran. Orang ini tidak memiliki perasaan seperti manusia.” – Hal 248.

  20. 5 out of 5

    Sherry Heather

    Absolute Justice. Kebenaran mutlak. Ternyata, kebenaran itu bisa juga 'salah'. Percaya nggak? 😊 . Aku suka banget karena ide cerita dari buku ini anti mainstream. Walaupun dari luar aura bukunya dark banget, waktu dibaca ternyata nggak seseram yang kukira. Seram di sini lebih kurasakan sebagai keseraman pada sifat seseorang kalau sifat itu benar-benar ada di dunia nyata. Bukan seram-seram hantu gitu 😂 Overall bukunya juga sangat mendidik. Dengan mengangkat topik tentang kebenaran yang katanya harus Absolute Justice. Kebenaran mutlak. Ternyata, kebenaran itu bisa juga 'salah'. Percaya nggak? 😊 . Aku suka banget karena ide cerita dari buku ini anti mainstream. Walaupun dari luar aura bukunya dark banget, waktu dibaca ternyata nggak seseram yang kukira. Seram di sini lebih kurasakan sebagai keseraman pada sifat seseorang kalau sifat itu benar-benar ada di dunia nyata. Bukan seram-seram hantu gitu 😂 Overall bukunya juga sangat mendidik. Dengan mengangkat topik tentang kebenaran yang katanya harus selalu ditegakkan, buku ini juga mendidik pembacanya kalau di dalam kebenaran juga harus ada rasa toleransi dan pertimbangan lainnya. Penulisannya rapi banget, dan terjemahannya enak dibaca. Tokoh-tokohnya punya kepribadian yang kuat, jadi kehidupan para tokoh rasanya nggak bercampur satu dengan yang lainnya. Kalau aku membayangkan tiap tokohnya, aku bisa merasakan apa yang akan mereka rasakan atau lakukan berdasarkan kepribadian masing-masing. Kelemahannya, buku ini cukup datar dengan suasana Jepang sehari-harinya, juga alurnya tergolong cepat karena membahas kehidupan tokoh dari masa-masa sekolah sampai kerja, jadi berbagai kejadian di kehidupan para tokoh kebanyakan hanya dibahas selintas saja.

  21. 5 out of 5

    cindy

    Eh, entah mo nulis ripiu apa aku inih, lha wong hatiku masih geram banget sama tokoh buku ini. Istilah "monster" masih kebagusan kaliii.... Teman2nya juga sih, ud tau si monster tabiatnya gitu, lha kok malah nyari perkara cerita yg gak perlu2. Ngajak kerja bareng segala... hadddeeehh.... Pokoknya, ini cerita paling menjengkelkan yg pernah kubaca. Tapiiii.... ini artinya juga, Akiyoshi-sensei did it again. Buku ini sekali dibaca sulit sekali dilepaskan sampai akhir. Karakter2nya masuk banget, bik Eh, entah mo nulis ripiu apa aku inih, lha wong hatiku masih geram banget sama tokoh buku ini. Istilah "monster" masih kebagusan kaliii.... Teman2nya juga sih, ud tau si monster tabiatnya gitu, lha kok malah nyari perkara cerita yg gak perlu2. Ngajak kerja bareng segala... hadddeeehh.... Pokoknya, ini cerita paling menjengkelkan yg pernah kubaca. Tapiiii.... ini artinya juga, Akiyoshi-sensei did it again. Buku ini sekali dibaca sulit sekali dilepaskan sampai akhir. Karakter2nya masuk banget, bikin emosi teraduk-aduk. Pemilihan sudut pandangnya membuat si karakter utama punya dua peran, villain sekaligus victim. Dan sesuai pemilihan judulnya, ending di sini memilih kemenangan Lady Justice tanpa pandang bulu. (sesungguhnya aku berharap penyelesaian yg berbeda, tidak dengan kematian, tapi... misalnya dengan dia sendiri ketanggor masalah hukum yg selalu didewa-dewakannya itu, biar lebih puitis gituh *halah*). Meskipun dmkn, twistnya di akhir epilog tambah bikin bengong, lalu ada tambahan cerita yang maaaaakin bikin bergidik dan berpikir, monster banget dah ini. Aku gak bakal pengin re-read novel ini sampai kapan pun, tapi Akiyoshi-sensei, sekali lagi, ku menjura padamu.

  22. 5 out of 5

    Natha

    This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here. Buku-buku Akiyoshi Rikako-sensei itu termasuk auto-buy buatku, sayangnya buku yang satu ini kelewatan aku pantau tanggal terbitnya, dan tahu-tahu di satu hari ketika aku ke tokbuk, menemukan buku ini deh. Senang langsung dan otomatis beli. :P Buku ini tidak seperti tiga buku 'manis' milik Akiyoshi-sensei yang sebelumnya, tetapi juga tidak segelap dua buku lainnya (Girls in the Dark atau Holy Mother). In the middle. Jadi kalau dibilang aku dapat seramnya, tidak juga lho. Twistnya mungkin tidak ke Buku-buku Akiyoshi Rikako-sensei itu termasuk auto-buy buatku, sayangnya buku yang satu ini kelewatan aku pantau tanggal terbitnya, dan tahu-tahu di satu hari ketika aku ke tokbuk, menemukan buku ini deh. Senang langsung dan otomatis beli. :P Buku ini tidak seperti tiga buku 'manis' milik Akiyoshi-sensei yang sebelumnya, tetapi juga tidak segelap dua buku lainnya (Girls in the Dark atau Holy Mother). In the middle. Jadi kalau dibilang aku dapat seramnya, tidak juga lho. Twistnya mungkin tidak ketebak, tetapi flat saja buatku. Yah, walau bisa dibilang, kalau aku jadi teman-teman si tokoh ini, aku mungkin tidak akan melakukan hal yang sama dengan teman-teman si tokoh, tetapi akan jauh-jauh. Gileee, kebenaran memang penting, tetapi apakah sama artinya dengan menjadi 'heartless'? Toh pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kebenaran, tetapi juga butuh hati. Memangnya mau hidup sendirian di dunia? Full review >> https://pearlsakuracorner.blogspot.co...

  23. 5 out of 5

    Shanya Putri

    “Orang ini sama sekali tidak punya rasa cinta. Yang dicintainya hanya kebenaran. Orang ini tidak memiliki perasaan seperti manusia.” Buku ini berhasil bikin aku kesal dan makan hati. Noriko itu memang sangat sangat menyebalkan!! Menurutku buku ini juga rada nyambung topiknya sama buku Wonder-nya R. J. Palacio. “When given the choice between being right or being kind, choose kind.” Alur buku ini juga rada mirip dengan Girls in the Dark, di mana setiap bab menceritakan tentan “Orang ini sama sekali tidak punya rasa cinta. Yang dicintainya hanya kebenaran. Orang ini tidak memiliki perasaan seperti manusia.” Buku ini berhasil bikin aku kesal dan makan hati. Noriko itu memang sangat sangat menyebalkan!! Menurutku buku ini juga rada nyambung topiknya sama buku Wonder-nya R. J. Palacio. “When given the choice between being right or being kind, choose kind.” Alur buku ini juga rada mirip dengan Girls in the Dark, di mana setiap bab menceritakan tentang setiap karakter di buku tersebut. Menurutku memang agak banyak kemiripan, sih, di sini-sana. Tapi beda. Endingnya tidak begitu mengejutkan karena aku (sedikit) berhasil menebak plot-nya! *yeay*

  24. 5 out of 5

    Windya Faradisa

    WOW! WOW! WOW! MENGERIKAN YANG HAKIKI. Topiknya bagus, cerita per karakter menarik, jelas aja dari mereka timbul keinginan yang gelap kayak gitu. Benar tapi tak punya rasq kemanusiaan dan tidak fleksibel. Hanya melihat pada Peraturan/Undang-undang/Kode tanpa memandang pada sisi nurani dan kemanusiaan. TOPIK YG BAGUS XD *clap*

  25. 5 out of 5

    Stefani Putria

    Oke emang bener yang di bilang pembaca lain yang sudah baca ini kalau buku nya akiyoshi sensei ngeselin banget. Dari awal bab sampai epilog terakhir ngga ada rasanya ngga kepengen ngelempar buku ini 😤😤 Gila! Akiyoshi sensei bisa menggambarkan karakter noriko sebegitu menyebalkan.

  26. 4 out of 5

    Andry Setiawan

    Kalau mau buku dengan after taste yang nggak enak, cobalah baca buku ini. Kebenaran belum tentu baik.

  27. 4 out of 5

    Sof

    Setelah beberapa kali ketinggalan buku diskon akhirnya dapat juga dengan harga yang oke buat kantong! Baca dan menamatkan ini dalam seharian penuh karena bukunya segera di adopsi teman! Keblenger? Tidak seperti baca buku Sharp Objectsnya Gillian Flynn yang dibaca sehari sebelumnya, novel ini sangat light untuk diikuti kisahnya. Jadi begitu toh para readers yang sudah baca buku ini sebegitu kesalnya... saya pun juga begitu walau sudah sekuat tenaga, 'tahan, tahan', 'benar kok perbuatan dan pikiran Setelah beberapa kali ketinggalan buku diskon akhirnya dapat juga dengan harga yang oke buat kantong! Baca dan menamatkan ini dalam seharian penuh karena bukunya segera di adopsi teman! Keblenger? Tidak seperti baca buku Sharp Objectsnya Gillian Flynn yang dibaca sehari sebelumnya, novel ini sangat light untuk diikuti kisahnya. Jadi begitu toh para readers yang sudah baca buku ini sebegitu kesalnya... saya pun juga begitu walau sudah sekuat tenaga, 'tahan, tahan', 'benar kok perbuatan dan pikiran Noriko', 'logis kok, dengan segala cantumin hukum yang berlaku di Jepang', sampai akhirnya gak tahan mulai bagian cerita sudut pandang Riho. Lanjut ke plot, tulisan Akiyoshi-sensei ini jadi menostalgiakan saya yang sukses menamatkan bukunya The Girls in the Dark: persahabatan wanita yang mengenal sejak SMA dengan segala drama dan kekelamannya. Kazuki Imamura yang atletis dan tomboy, Yumiko Nishiyama yang sedikit lola, Riho Williams yang pintar dan disiplin, Reika Ishimori sang aktris yang suka keteteran dengan padatnya waktu antara sekolah dan syuting dipertemukan dengan siswi pintar, disiplin, dan meninggikan atas kebenaran di segala hal. Absolute Justice = Kebenaran yang HQQ, jadi di sepanjang pertama sampai pertengahan novel saya tidak bisa menyebutnya kelam, tapi ya memang seharusnya begitu, meski harus mengenyampingkan rasa kemanusiaan. Alur yang diceritakan maju mundur, masing-masing bab akan berkaitan karena empat orang wanita menerima surat undangan warna ungu dari sosok yang mereka kenal, Tahaki Noriko si teman kebenaran yang mereka kenal di masa SMA. Bab pertama diceritakan sudut pandang dari Kazuki, seorang jurnalis yang sedang mencoba mengulik masalah atas penyelewengan ketenagakerjaan dalam perusahaan yang membuat ia berhubungan dengan Noriko untuk bantu mengungkap siapa pelakunya. Berhasil. Tulisannya dimuat dan ia kemampuan sebagai jurnalistik yang diakui masyarakat Jepang. Berhasil juga. Dipojokkan oleh Noriko si 'Cyborg Kebenaran' yang menganggap perbuatan Kazuki membuat celah kesalahan dalam mengumpulkan referensi penulisan. Bab kedua Yumiko, Ibu dua anak laki-laki, bersuami pengangguran dan suka foya-foya. Uangnya dari mana? Berbagai utang sehingga tagihan datang kepada Yumiko yang ia bayar dari hasil kerja part-time bersih-bersih tempat umum. Ditengah gentingnya hidup ia dipertemukan dengan Noriko yang sukses mendorong suaminya untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan. Berhasil. Dapat pekerjaan. Ternyata pekerjaan suaminya tidak bertahan lama. Suami berbohong dan tunggakan semakin menggunung. Ada ya wanita yang sabar hadapin suami begini, ada mungkin, hebat sih kalau ada. Tapi disini Yumiko jelas mana tahan. Gagal. Noriko datang lagi, tapi kali ini beda, Yumiko justru dipojokkan oleh Noriko si 'Monster Kebenaran' yang menganggap telah melakukan KDRT dan tidak patuh kepada suami. "Di kepala Yumiko, terbayang sosok pahlawan yang mengalahkan monster jahat. Pahlawan hanya melihat kebenaran, gedung dan alam sekitar rusak, mobil dan kereta terempas, dan orang-orang melarikan diri dengan bersimbah darah. Jika demikian, bukankah pada akhirnya yang dilakukan Noriko itu sama dengan yang dilakukan oleh monster jahat? Pahlawan kebenaran itu hanyalah monster yang mengatasnamakan kebenaran?" - 119 Bab ketiga Riho. Saya anggap berkat diri yang ulet membawa keberhasilan bagi Riho dan suami Amerika-nya bernama Joy: memiliki sekolah internasional sukses dan keduanya menjabat sebagai Ketua dan Wakil Kepala Sekolah. Hidup tak selalu sesuai yang diangankan, untuk memiliki anak bagi keduanya amat perjuangan. Berkali-kali melakukan bayi tabung memberi ide bagi mereka antara mengadopsi anak atau melakukan surogasi. Noriko, lagi, saat itu menjabat sebagai eksekutif keuangan di sekolah mereka berdua. Joy sangat mengapresiasi, namun Riho lama kelamaan ya eneg juga dengan sifat perfecto Noriko yang membuat karyawan yang lain tidak betah. Karena Riho tidak ingin mengasuh anak yang bukan darah daging dari keduanya, akhirnya Joy memberi pilihan untuk melakukan surogasi: sel telur dari Noriko. Bayangin gaes, walau sel pihak pria dari yang dicintai digabung dengan sel telur orang yang paling dibenci. Noriko sang 'Kebenaran Tanpa Busana' dengan menerima dengan manis tawaran Joy dan segala firman berdasarkan dalil hukumnya membenarkan itu didepan Riho. Eughh, disini saya sudah berpikiran negatif, jangan-jangan si Joy suka sama Noriko. Bab keempat Reika, aktris kelas menengah Jepang (sebelumnya kelas atas namun karena sudah dirundung usia akan melewati 35 tahun) yang memiliki seorang kekasih. Kekasihnya punya dua anak yang masih kecil dan istri tua yang sedang koma sehingga orangtua istri a.k.a. mertua Reika juga merestui hubungannya dengan suami. Reika yang bertemu secara tiba-tiba dnegan Noriko di kereta mengeluarkan cerita rumah tangganya. Kesel. Tapi Reika juga nyaman sama Noriko karena pengalaman indah Noriko yang sabar mengajarkan Reika untuk mengejar pelajaran yang tertinggal. Lagi-lagi sob, Noriko dengan kekuatan 'Iblis Kebenaran' memojokkan Reika yang menyangkutpautkan masalah hubungan kumpul kebo kekasih akan merugikan anak-anak kekasihnya. Geregetnya pada seperempat novel kenapa empat wanita ini diam-diam saja sih. Terjawab sudah mulai di tengah bahwa semua ya pasti maunya Noriko musnah saja di bumi. Saya jadi berpikir, secara sadar saya memang hidup di negara yang masih harus belajar akan kebenaran dan keadilan. Jadi berimajinasi kalau ada manusia seperti Noriko, bisa jadi, akan diangkat menjadi Presiden, bahkan, DPR mungkin. Tapi, karena negara ini masih menjunjung tali persaudaraan, kemanusiaan, dan solidaritas ya juga akan mengutuk perbuatan Noriko, sehingga membuat Noriko bunuh diri. Karena, baginya (terjawab oleh seseorang ;) perbuatan bunuh diri itu tidak melanggar hukum dan jelas bukan suatu kesalahan. Menurut saya ini novel terbaik teratas, baru kedua saya tempatkan Holy Mother. Saya suka novel yang memainkan psikologi pembaca dan memberi pilihan bagi pembaca pilihan ingin membenarkan yang mana seperti Confessionsnya Kanae Minato-sensei. 4.7 /5

  28. 4 out of 5

    Pauline Destinugrainy

    Sinopsisnya yang sangat singkat, membuat saya penasaran tentang isi buku ini. Kazuki, Yumiko, Riho dan Reika adalah sahabat yang membentuk satu geng di SMA. Lalu muncullah anak baru bernama Noriko yang selalu sendirian. Kazuki cs mulai mengajak Noriko bergabung di kelompok mereka. Awalnya Noriko adalah orang yang menyenangkan, suka menolong teman. Namun lama kelamaan watak asli Noriko muncul. Noriko adalah penjunjung kebenaran. Bagi Noriko, kebenaran adalah segalanya. Satu persatu Kazuki, Yumiko Sinopsisnya yang sangat singkat, membuat saya penasaran tentang isi buku ini. Kazuki, Yumiko, Riho dan Reika adalah sahabat yang membentuk satu geng di SMA. Lalu muncullah anak baru bernama Noriko yang selalu sendirian. Kazuki cs mulai mengajak Noriko bergabung di kelompok mereka. Awalnya Noriko adalah orang yang menyenangkan, suka menolong teman. Namun lama kelamaan watak asli Noriko muncul. Noriko adalah penjunjung kebenaran. Bagi Noriko, kebenaran adalah segalanya. Satu persatu Kazuki, Yumiko, Riho dan Reika menceritakan pengalaman mereka bersama Noriko. Pembaca pasti merasa kesal dengan sosok Noriko ini. Okelah kalau kebenaran yang dijunjungnya hanya untuk dirinya sendiri, tapi dia mulai mencampuri kehidupan teman-temannya. Kebenaran tanpa kemanusiaan. Itulah Noriko. Masalahnya lima tahun kemudian, keempat wanita yang pernah berurusan dengan Noriko mendapat undangan dari Noriko sendiri. Padahal lima tahun yang lalu, keempatnya sudah memastikan kematian Noriko. Apakah Noriko bangkit dari kematian? Misterinya ga setajam buku lainnya, Hanya saja karakter Noriko ini bikin saya mengurut dada, ada ya karakter kayak gini.

  29. 5 out of 5

    Earvin Putra

    Ini buku dengan blurb paling simpel "Seharusnya monster itu sudah mati..." Udah cuma gitu doang, nggak ada gambaran kira-kira konfliknya kaya gimana. Tapi karena itu juga rasa penasaran kita makin kuat, dan pengen cepet2 buka dan baca buku ini. gue juga ga mau spoilerin apa konfliknya, biarlah kalian merasakan penasaran yang sama. Intinya di buku ini, si penulis berhasil mengaduk emosi, jujur guebacanya aja "kesel" dan kalo ada di posisi yang sama dengan si tokoh, bisa aja gue ngelakuin itu juga. b Ini buku dengan blurb paling simpel "Seharusnya monster itu sudah mati..." Udah cuma gitu doang, nggak ada gambaran kira-kira konfliknya kaya gimana. Tapi karena itu juga rasa penasaran kita makin kuat, dan pengen cepet2 buka dan baca buku ini. gue juga ga mau spoilerin apa konfliknya, biarlah kalian merasakan penasaran yang sama. Intinya di buku ini, si penulis berhasil mengaduk emosi, jujur guebacanya aja "kesel" dan kalo ada di posisi yang sama dengan si tokoh, bisa aja gue ngelakuin itu juga. buku ini sih ga sebagus Holy Mother(ini mah standarnya udah paling tinggi), tapi masih tergolong bagus.

  30. 4 out of 5

    Lovina Wijaya

    Seharusnya monster itu sudah mati... Noriko: hehe boi, lupa, ya, kalau aku punya penerus?

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.