web site hit counter #Tetot: Aku, Kamu, dan Media Sosial - Ebooks PDF Online
Hot Best Seller

#Tetot: Aku, Kamu, dan Media Sosial

Availability: Ready to download

Media sosial telah begitu menjadikan keseluruhan masyarakat global memiliki kesempatan yang sama (flat). Media sosial telah mampu mewujudkan kolaborasi manusia tanpa batasan waktu dan tempat. Media sosial adalah bahasa komunikasi generasi saat ini. Dengannya, mengubah dunia tidak lagi dilakukan sendirian. Media sosial telah menjadi kendaraan bagi gagasan-gagasan kita untuk Media sosial telah begitu menjadikan keseluruhan masyarakat global memiliki kesempatan yang sama (flat). Media sosial telah mampu mewujudkan kolaborasi manusia tanpa batasan waktu dan tempat. Media sosial adalah bahasa komunikasi generasi saat ini. Dengannya, mengubah dunia tidak lagi dilakukan sendirian. Media sosial telah menjadi kendaraan bagi gagasan-gagasan kita untuk bisa menjangkau siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Terlebih, masyarakat kita sekarang adalah masyarakat yang terkoneksi. Mereka tinggal menunggu orang-orang yang memiliki gagasan, inisiatif, dan keberanian untuk mengadakan perubahan. Ketika syarat-syarat itu ada, roda perubahan pun akan segera bergulir tanpa bisa ditahan lagi. Namun begitu, buku ini sama sekali bukan buku teori atau analisis tentang bagaimana media sosial mampu menjadi jawaban atas segala macam permasalahan bangsa kita. Buku ini adalah buku mengenai bagaimana interaksi saya dengan media sosial, bagaimana saya menggunakannya, mengapa saya menggunakannya, bagaimana pengalaman saya menjawab kegelisahan yang saya hadapi melalui media sosial, dan yang terpenting adalah apa manfaat yang dihasilkannya. Karena keseluruhannya bicara mengenai pengalaman saya, maka buku ini, pada setiap bagiannya, secara umum terbagi pada dua periode kehidupan saya: pertama, sejak saya berinteraksi dengan media sosial hingga menjelang menjadi walikota Bandung; kedua, setelah saya mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung. Dalam keseluruhan bagiannya, kita semua dapat melihat sebuah pengalaman, bagaimana media sosial menjawab kegelisahan kehidupan saya, baik sebelum mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung maupun sesudahnya. Karena terkait posisi saya sebagai warga Bandung dan sekarang menjadi pelayan warga Bandung, maafkan saya sekiranya isi buku ini bicara juga mengenai Bandung. Mudah-mudahan, pengalaman saya di Bandung dalam menjawab masalah-masalah khas kota metropolitan, dapat menjadi inspirasi.


Compare

Media sosial telah begitu menjadikan keseluruhan masyarakat global memiliki kesempatan yang sama (flat). Media sosial telah mampu mewujudkan kolaborasi manusia tanpa batasan waktu dan tempat. Media sosial adalah bahasa komunikasi generasi saat ini. Dengannya, mengubah dunia tidak lagi dilakukan sendirian. Media sosial telah menjadi kendaraan bagi gagasan-gagasan kita untuk Media sosial telah begitu menjadikan keseluruhan masyarakat global memiliki kesempatan yang sama (flat). Media sosial telah mampu mewujudkan kolaborasi manusia tanpa batasan waktu dan tempat. Media sosial adalah bahasa komunikasi generasi saat ini. Dengannya, mengubah dunia tidak lagi dilakukan sendirian. Media sosial telah menjadi kendaraan bagi gagasan-gagasan kita untuk bisa menjangkau siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Terlebih, masyarakat kita sekarang adalah masyarakat yang terkoneksi. Mereka tinggal menunggu orang-orang yang memiliki gagasan, inisiatif, dan keberanian untuk mengadakan perubahan. Ketika syarat-syarat itu ada, roda perubahan pun akan segera bergulir tanpa bisa ditahan lagi. Namun begitu, buku ini sama sekali bukan buku teori atau analisis tentang bagaimana media sosial mampu menjadi jawaban atas segala macam permasalahan bangsa kita. Buku ini adalah buku mengenai bagaimana interaksi saya dengan media sosial, bagaimana saya menggunakannya, mengapa saya menggunakannya, bagaimana pengalaman saya menjawab kegelisahan yang saya hadapi melalui media sosial, dan yang terpenting adalah apa manfaat yang dihasilkannya. Karena keseluruhannya bicara mengenai pengalaman saya, maka buku ini, pada setiap bagiannya, secara umum terbagi pada dua periode kehidupan saya: pertama, sejak saya berinteraksi dengan media sosial hingga menjelang menjadi walikota Bandung; kedua, setelah saya mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung. Dalam keseluruhan bagiannya, kita semua dapat melihat sebuah pengalaman, bagaimana media sosial menjawab kegelisahan kehidupan saya, baik sebelum mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung maupun sesudahnya. Karena terkait posisi saya sebagai warga Bandung dan sekarang menjadi pelayan warga Bandung, maafkan saya sekiranya isi buku ini bicara juga mengenai Bandung. Mudah-mudahan, pengalaman saya di Bandung dalam menjawab masalah-masalah khas kota metropolitan, dapat menjadi inspirasi.

30 review for #Tetot: Aku, Kamu, dan Media Sosial

  1. 4 out of 5

    Mpur Chan

    "Jangan pilih pemimpin yang hobinya Twitter-an dan Instagram-an, kerjanya sosmed mulu kapan urusin rakyat?" Begitulah kicauan yang dilontarkan seseorang berakun Twitter @icalsarajevo pada bulan Maret 2014 lalu. Bisa jadi, itulah titik dimana Ridwan Kamil, sang wali kota Bandung, membuktikan bahwa anggapan tersebut salah lewat buku #TETOT: Aku, Kamu, dan Media Sosial. Hashtag #TETOT di Twitter digunakan pertama kali oleh Ridwan Kamil ketika Farhat Abbas menyampaikan informasi yang salah tentang Ba "Jangan pilih pemimpin yang hobinya Twitter-an dan Instagram-an, kerjanya sosmed mulu kapan urusin rakyat?" Begitulah kicauan yang dilontarkan seseorang berakun Twitter @icalsarajevo pada bulan Maret 2014 lalu. Bisa jadi, itulah titik dimana Ridwan Kamil, sang wali kota Bandung, membuktikan bahwa anggapan tersebut salah lewat buku #TETOT: Aku, Kamu, dan Media Sosial. Hashtag #TETOT di Twitter digunakan pertama kali oleh Ridwan Kamil ketika Farhat Abbas menyampaikan informasi yang salah tentang Bandung. #TETOT sendiri mengacu pada bunyi alarm salah seperti di acara kuis-kuis di televisi. Karena itu, buku ini menjawab kegelisahan-kegelisahan Ridwan Kamil tentang Indonesia, terutama kota Bandung. "Negeri kita memang sedang sakit. Ciri negeri sakit adalah pemerintahannya korup, pebisnisnya oportunis, dan kaum intelektualnya apatis. Kita tengah terjebak di sana." Sejak dilantik menjadi wali kota Bandung, Ridwan Kamil berusaha membenahi apa yang tidak beres di lingkungannya terlebih dahulu, Bandung. Terbukti dengan jalanan di Bandung yang sudah mulai bagus, taman-taman yang sudah tidak menjadi sarang jurig (hantu) lagi, masyarakat mulai sadar akan lingkungan dengan program-program seperti GPS (Gerakan Pungut Sampah), atau Gerakan Sejuta Biopori, serta masyarakat mencoba hal baru dengan mengikuti Fun Days (Senin Damri Gratis, Selasa Tanpa Rokok, Rebo Nyunda, Kemis Inggris, Jumat Bersepeda, Sabtu Kuliner). Dan, banyak sekali program lainnya yang sedang berjalan demi mewujudkan Bandung Juara yang aman dan nyaman. Semua itu tak lepas dari peran media sosial yang saat ini memang sedang menjadi tren. Lewat akun Twitternya, Ridwan Kamil berusaha mendekatkan jarak antara masyarakat dan pemimpin. Itu semua demi komunikasi dua arah yang tak diganggu dengan birokrasi. Terinspirasi dari gaya memimpinnya Barrack Obama, Ridwan Kamil memanfaatkan jejaring media sosial Twitter dan Facebook untuk mendengar apa yang ingin disampaikan masyarakat Bandung. Semua orang bisa bertanya padanya, kemudian beliau akan membalas. Belum lagi, dinas-dinas pemerintahan dan para pejabat di lingkungan Pemkot mulai aktif di media sosial, sehingga memudahkan komunikasi. "Model-model komunikasi seperti inilah yang saya gunakan untuk menyampaikan gagasan-gagasan saya guna membangun Kota Bandung. Satu hal lagi, karena saya memahami bahwa masyarakat Bandung adalah masyarakat kreatif, model komunikasi saya juga lebih banyak menggunakan pendekatan kreatif: gambar atau ilustrasi." Gambar dan ilustrasi menjadi salah satu media untuk menyampaikan sesuatu. Karena itu, di buku ini pun selain tulisan disertai pula ilustrasi yang membuat pembaca tergelak dan tertawa terbahak-bahak. Tak lupa diselipkan foto diri Ridwan Kamil sebagai bagian dari homo bandoengicus anu kreatifus sekaligus narciscus. Hehe… "Sebagai pemimpin sebuah masyarakat besar, saya merasakan kebahagiaan yang sangat saat mampu berkomunikasi dengan mereka. Barangkali, dari sekian komunikasi yang saya jalani bersama mereka, saya juga merasakan kebahagiaan mereka karena mendapati kenyataan bahwa walikota mereka adalah teman yang bisa diajak bercanda." Melalui buku #TETOT ini, Ridwan Kamil berbicara tentang alasan beliau membuat program-program dan bagaimana kelanjutannya. Beliau juga menyinggung tentang hal yang tengah dikembalikan ke ‘jalan yang lurus’, seperti PKL, Pengemis dan anak jalanan, penerimaan siswa baru, perizinan pembangunan, mushola di mall, sampai billboard iklan. Membaca alasan-alasan ini membuat hati saya trenyuh. Sungguh. Pekerjaan wali kota itu tidak semudah dan secepat yang dibayangkan. Dibutuhkan kesabaran dan semangat yang konsisten. Namun, ada saja pihak-pihak yang berpikir negatif, sampai-sampai berkata kasar. Ckck! Setelah selesai membaca buku ini, saya menjadi semangat untuk mendukung program Ridwan Kamil. Saya pun (agak) menitikkan air mata ketika tahu bahwa mencoba meluruskan sesuatu itu penuh perjuangan, rintangan, dan tantangan di sana-sini. Sebagai warga Bandung, saya ingin mengatakan ini pada Pak Ridwan Kamil: “Semangat terus, pak! Jangan menyerah walau badai menghadang (hehe)! Jadilah seperti bola bekel. Ketika dibanting, bisa mental lagi.” Sebagai warga Bandung, saya bangga memiliki wali kota seperti Pak Ridwan Kamil. Semangat! "Mau punya wali kota yang gampang dihubungi atau susah dihubungi?"

  2. 5 out of 5

    Dion Dbelmont

    Wow!! Pertama liat covernya sudah sangat kekinian, #Tetot, Aku Kamu dan Media Sosial, plus foto Kang Ridwankamil juga logo burung berkicau berwarna biru alias twitter.. Buku Ini penuh dengan pelajaran hidup yang bisa kita ambil hikmahnya, dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari yg dialami oleh kang Emil-sapaan akrab Ridwan Kamil, dan mungkin kita juga mengalami hal yang sama. Anak Twitter yang kebetulan jadi walikota, ya sebuah hal yang sederhana menunjukkan kerendahan hati seorang kang Emik, sa Wow!! Pertama liat covernya sudah sangat kekinian, #Tetot, Aku Kamu dan Media Sosial, plus foto Kang Ridwankamil juga logo burung berkicau berwarna biru alias twitter.. Buku Ini penuh dengan pelajaran hidup yang bisa kita ambil hikmahnya, dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari yg dialami oleh kang Emil-sapaan akrab Ridwan Kamil, dan mungkin kita juga mengalami hal yang sama. Anak Twitter yang kebetulan jadi walikota, ya sebuah hal yang sederhana menunjukkan kerendahan hati seorang kang Emik, saat dirinya bergerak mengikuti pemilihan walikota Bandung karena keinginan untuk membenahi Bandung yang sudah begitu kompleks permasalahannya. Buku Ini bercerita bagaimana kiprah kang Emil sebagai seorang pemimpin yang sangat dekat dengan rakyatnya melalui twitter facebook, juga instagram, berkomunikasi, menemukenali masalah dan mencarikan solusinya yang ada di kota Bandung, dan hasilnya pun bisa dirasakan saat Ini. So sebuah karya yang luar biasa layak untuk dibaca, diresapi dan dipraktekkan saran, pemikiran kang Emil juga kicauan" warga Bandung. selamat membaca!!

  3. 4 out of 5

    Gede Suprayoga

    Buku ini adalah otobiografi sosial media Ridwan Kamil (RK), sebagai walikota Bandung saat buku ditulis. Buku dikemas dengan bahasa yang ringan untuk mencatatkan awal perkenalan dengan Twitter dan platform media sosial lainnya (Facebook, Instagram, dll.) sampai dengan keberfungsian media saat menjabat sebagai walikota. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mengenal dua sisi tak terpisahkan dari media sosial. Pertama, sisi negatif yang memperlihatkan ruang komunikasi di dunia maya yang hampir tan Buku ini adalah otobiografi sosial media Ridwan Kamil (RK), sebagai walikota Bandung saat buku ditulis. Buku dikemas dengan bahasa yang ringan untuk mencatatkan awal perkenalan dengan Twitter dan platform media sosial lainnya (Facebook, Instagram, dll.) sampai dengan keberfungsian media saat menjabat sebagai walikota. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mengenal dua sisi tak terpisahkan dari media sosial. Pertama, sisi negatif yang memperlihatkan ruang komunikasi di dunia maya yang hampir tanpa norma, sehingga sering kali menanggalkan norma kesantunan sebagaimana layaknya dituntut di dunia nyata. Kedua, sisi positif yang menggapai potensi-potensi untuk menciptakan kebaikan sosial, baik dilihat sebagai pribadi maupun pejabat publik. Sebagai sesorang yang "dimenangkan" oleh kehadiran media sosial, RK menyadari kedua sisi tersebut. Buku ini adalah penyadaran atas kedua sisi tersebut, sekaligus mengarahkan pembaca arti media sebagai sarana untuk menyampaikan pesan yang efektif, berinteraksi cerdas dengan ragam khalayak, dan menciptakan dukungan politik. #Tetot mungkin bisa dilihat sebagai curahan hati sang walikota dan sekaligus semacam syarat dan Ketentuan bagi siapa pun yang ingin berinteraksi dengannya.

  4. 4 out of 5

    Dio Handoyo

    Fun and light. Loosely structured, the book depicts how Mayor Ridwan "Emil" Kamil uses the social media in his capacity as the leader of Bandung. The interesting thing is how he uses social media for things outside the usual functions (news, clarifications, policy socialization) but also to tap into Twitter users 'wisdom of the crowd' for 'feelers' in addressing common issues. Fun and light. Loosely structured, the book depicts how Mayor Ridwan "Emil" Kamil uses the social media in his capacity as the leader of Bandung. The interesting thing is how he uses social media for things outside the usual functions (news, clarifications, policy socialization) but also to tap into Twitter users 'wisdom of the crowd' for 'feelers' in addressing common issues.

  5. 4 out of 5

    Mahendra Sanggha

    Buku yang cukup ringan dan menarik. Ridwan Kamil adalah fenomena. Seorang walikota yang benar-benar berhasil memanfaatkan teknologi informasi terutama sosial media. Menjadikan jarak yang selama ini membatasi antara rakyat dan pemerintah menjadi tidak ada. Transparan dengan bantuan internet. Saya belajar banyak dari buku ini. :)

  6. 5 out of 5

    Hasib Habibie

    Buku yang cukup ringan dan bisa menginspirasi. Cuma ada beberapa kata yang diulang jadinya seakan buku ini kumpulan artikel atau notes (atau memang begitu?) :D tapi buku ini tetap banyak poin yg bisa diambil.

  7. 5 out of 5

    Aldo Hardiansyah

    Illustrator komik nya bikin ngakak

  8. 5 out of 5

    Mira Widyawati

    wow so cool!

  9. 5 out of 5

    Riri

    never

  10. 4 out of 5

    Indah Threez Lestari

    183 - 2015

  11. 4 out of 5

    tukang gambar

    Energi positif senantiasa terpancar di tiap lembar buku ini. Layak dibaca!

  12. 4 out of 5

    Maisya Farhati

  13. 5 out of 5

    Nissa

  14. 5 out of 5

    Virtha

  15. 4 out of 5

    Panthom Laksono

  16. 5 out of 5

    Rai Kusumah

  17. 5 out of 5

    Yayan

  18. 5 out of 5

    Yusuf Wahyudi

  19. 4 out of 5

    Fathurrahman Alfan

  20. 4 out of 5

    Lafita Azyedara

  21. 4 out of 5

    Bunga

  22. 4 out of 5

    Bagus Pujilaksono

  23. 4 out of 5

    Anisah Fathiroh

  24. 4 out of 5

    Mochammad Firmansyah

  25. 5 out of 5

    Hery Romansyah

  26. 5 out of 5

    Tyas Priutami

  27. 4 out of 5

    Muhammad Khairi

  28. 4 out of 5

    Titik Handayani

  29. 4 out of 5

    Nisa Ferinadia

  30. 4 out of 5

    rehesty

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.