web site hit counter My Self: Scumbag, Beyond Life and Death - Ebooks PDF Online
Hot Best Seller

30 review for My Self: Scumbag, Beyond Life and Death

  1. 5 out of 5

    Pandasurya

    Yup, sepertinya buku ini juga bacaan tepat di bulan Februari. *** Luka. Berkarat. Darah hitam kebencian. Ivan 'Scumbag' Begundal hardcore. Ugal-ugalan. Menggerinda. Menghajar Pekat laknat penuh arogan Berdiri di atas kebencian Beyond coma and despair. Gelap tanpa akhir. Mencekam malam terkelam Sakit jiwa Setan Iblis Neraka *** kukencani malaikat maut dalam penjara batin biar kupendam semua benci dan dendam hilang identitas diri tanpa disadari terasing dalam kumpulanku terhanyutku dalam lamunan basa-basi bahasa jad Yup, sepertinya buku ini juga bacaan tepat di bulan Februari. *** Luka. Berkarat. Darah hitam kebencian. Ivan 'Scumbag' Begundal hardcore. Ugal-ugalan. Menggerinda. Menghajar Pekat laknat penuh arogan Berdiri di atas kebencian Beyond coma and despair. Gelap tanpa akhir. Mencekam malam terkelam Sakit jiwa Setan Iblis Neraka *** kukencani malaikat maut dalam penjara batin biar kupendam semua benci dan dendam hilang identitas diri tanpa disadari terasing dalam kumpulanku terhanyutku dalam lamunan basa-basi bahasa jadi basi tak pernah kusangka luka semakin menganga cengkram mulut dan asaku tanpa harapanku beri aku ruang gerak Ivan Scumbag, 2000 selamat datang di dunia bawah tanah.. gelap..gelap..hitam.. akhirnya dapet juga buku inih..

  2. 5 out of 5

    Aip adam

    ivan scumbag sore itu, Saparua, medio 98 99 saya melihat beliau sebagai frontliner burgerkill yang menjadi talent utama di salah satu acara underground lokal, saya masih ingat sosok kalem dan tubuhnya yang kecil, tanpa baju, dengan rajahan tattonya, kacamata hitam, dan ikat kepala yang selalu dia kenakan. dia membuka intro dengan suaranya yang khas arrgggh suara nanar, perih, dan hitam.. saya salah satu orang yang suka mengomentari betapa khasnya suara screaming dan growl seorang scumbag, hingga dikem ivan scumbag sore itu, Saparua, medio 98 99 saya melihat beliau sebagai frontliner burgerkill yang menjadi talent utama di salah satu acara underground lokal, saya masih ingat sosok kalem dan tubuhnya yang kecil, tanpa baju, dengan rajahan tattonya, kacamata hitam, dan ikat kepala yang selalu dia kenakan. dia membuka intro dengan suaranya yang khas arrgggh suara nanar, perih, dan hitam.. saya salah satu orang yang suka mengomentari betapa khasnya suara screaming dan growl seorang scumbag, hingga dikemudian hari setelah membaca buku ini saya kemudian tahu, erangannya adalah rasa asli dari sakit yang dia rasa seorang kimung mendeskripsikan scumbag begitu mengena,walaupun banyak yang menlai editor buku ini tidak bekerja maksimal, kimung seperti seorang sahabat yang mengenalkan sahabat lainnya yang dia punya, dengan bahasa yang memicu elak tawa dan kemuraman, plotnya terasa pas menggambarkan sosok seorang Begundal Hardcore Ugal-ugalan setelah membaca buku ini, terlebih saya tahu pasti bagaimana ikatan yang kuat dalam sistem pertemanan mereka di ujung berung, tak terasa saya meneteskan mata untuk beliau sang scumbag! scream louder.. climb higher.. walk farther.. breathe deeper.. live longer.. disana di tempat yang nyaman bagimu tentu saja songs untuk mengiringi medio baca buku ini * “Dua Sisi” MC Album, Riotic Records, 2000 * “Berkarat” MC & CD Album, Sony Music Ent. Indonesia, 2003 * “Dua Sisi Repacked” MC & CD Album, Sony Music Ent. Indonesia, 2005 * “Beyond Coma and Despair” MC & CD Album, Revolt! Records, 2006 picked track SAKIT JIWA, Angkuh, Atur Aku

  3. 5 out of 5

    Cece Yaya Sudarya

    Sebenarnya sudah lama saya ingin membeli buku ini semenjak publik Bandung mengabarkan ada buku tentang biografi Ivan "Scumbag" Firmansyah semenjak wafatnya beliau. Ivan adalah frontman band Burgerkill favorit saya semenjak single mereka saya dengar lewat kompilasi Breathless circa tahun 1999-2000. Baru bulan kemarin saya sempat membelinya karena penasaran dengan isinya tersebut. Semenjak itu dan seiring saya mulai memasuki dunia musik underground saya mulai banyak kenal dan tahu kawan seide dan s Sebenarnya sudah lama saya ingin membeli buku ini semenjak publik Bandung mengabarkan ada buku tentang biografi Ivan "Scumbag" Firmansyah semenjak wafatnya beliau. Ivan adalah frontman band Burgerkill favorit saya semenjak single mereka saya dengar lewat kompilasi Breathless circa tahun 1999-2000. Baru bulan kemarin saya sempat membelinya karena penasaran dengan isinya tersebut. Semenjak itu dan seiring saya mulai memasuki dunia musik underground saya mulai banyak kenal dan tahu kawan seide dan seperjuangan, band-band keren, majalah indie, records indie, clothing dan segala hal yang berhubungan dengan itu semuanya. Saya akrab dengan Toto, mantan drummer Burgerkill waktu itu via surat, telepon dan sms. Kami banyak bertukar cerita, pengalaman hidup, berbagi demo lagu band masing-masing. Saya pun dapat kehormatan diberikan sample lagu Burgerkill untuk album mereka Berkarat yang akan dirilis waktu itu via Sony Music Indonesia. Album Dua Sisi sebelumnya yang dirilis records indie RIOTIC pun sempat saya distribusikan di Tangerang. Kembali ke Ivan yang ternyata usianya lebih tua setahun dengan saya. Kurang lebih sama dengan kehidupan saya di sini walau intens dengan musik dan skillnya pasti jauh di atas saya. Tipikal anak ABG yang masih mencari jati diri pun sama, namun Bandung terutama Ujung Berung mempunyai scene yang jauh lebih baik untuk pengembangan konwledge dan skill musik dibandingkan di kota saya :) Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari buku tersebut termasuk struggle dan keberanian Ivan dalam mengambil sikap. Termasuk sikap permisif dan mudahnya mencari narkoba dan zat aditif lainnya di Bandung walau tak menutup mata ini hampir terjadi di seluruh kota Indonesia. Dari buku tersebut yaang saya sedihkan adalah mengapa Ivan begitu miskin dalam artian finansial yang berbanding terbalik dengan hingar bingar rockstar di atas panggung dan fee Burgerkill yang sudah "di atas rata-rata" band underground. Artinya apakah tidak ada semacam "petty cash" atau uang tabungan band untuk saling menutupi kebutuhan pokok setiap personel yang ada dan menghidupi band tersebut. Saya pun pernah bermain di beberapa band indie walau tidak sebesar Burgerkill yang sudah mendobrak pasar major label, namun saat iitu kami sudah mengusahakan untuk bisa saling terbuka dan tolong menolong atas kesulitan yang ada pada setiap personel. Tapi detailnya saya tidak begitu tahu. Semoga kita bisa memetik banyak hikmah dalam buku biografi rocker Bandung ini. Sleep well brotha!

  4. 4 out of 5

    Rikza124

    nothing

  5. 5 out of 5

    Pratama Aditya

    wow

  6. 5 out of 5

    Fahmi Arfiandi

    Mengukir langit – langit Mencari jejak sepi Mengasah nurani Melukis diri Karma hidup akan terus bernyanyi Dan keabadian jiwa akan tetap bersemi Ivan Firmansyah alias Scumbag – Juni 1997 Dari sobekan buku catatan Ivan di berkas Kimung Desember 2006 Puisi di atas adalah kalimat pembuka dari buku berjudul My Self : Scumbag – Beyond Life And Death karya Kimung, seorang penulis muda asal Bandung. Buku ini menceritakan kisah hidup dari Ivan Firmansyah atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan, Scumbag. Iva Mengukir langit – langit Mencari jejak sepi Mengasah nurani Melukis diri Karma hidup akan terus bernyanyi Dan keabadian jiwa akan tetap bersemi Ivan Firmansyah alias Scumbag – Juni 1997 Dari sobekan buku catatan Ivan di berkas Kimung Desember 2006 Puisi di atas adalah kalimat pembuka dari buku berjudul My Self : Scumbag – Beyond Life And Death karya Kimung, seorang penulis muda asal Bandung. Buku ini menceritakan kisah hidup dari Ivan Firmansyah atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan, Scumbag. Ivan, Scumbag Hardcore ugal – ugalan adalah pionir generasi pendobrak Ujung Berung Rebels dan juga seorang vokalis dari band Hardcore/Metal kugiran asal kota kembang, Burger Kill. Kimung sang penulis yang juga merupakan teman masa kecil, saudara sebotol dan partner in crimenya Ivan di awal era Burger Kill berdiri, menulis dengan detail kisah kehidupan Ivan dalam buku ini. Alur cerita yang mengalir bagai novel fiksi. Mengupas lengkap kisah hidup Ivan yang penuh semangat dan harga diri, sekaligus juga kekecewaan dan dendam. Dan juga impian – impiannya yang selangit serta totalitas bermusik yang mengantarnya menjadi besar bahkan lebih besar dari hidupnya sendiri. Beserta segala ironi yang mengintip dengan kejam di balik kebesaran itu, mencuri jiwanya diam – diam. Buku ini terdiri dari 14 bagian, termasuk 2 bagian pembuka yang ditulis oleh sang penulis sendiri dan sang penyunting buku, Yusandi. Masalah penyuntingan naskah buku selalu menarik bagi saya pribadi. Karena selalu berhubungan dengan masalah peristilahan serta bahasa slengean jalanan dan juga bahasa gaul lainnya yang terkadang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Seperti yang di ungkapkan oleh sang penyunting di bagian 2 buku ini. “ Ada beberapa masalah yang perlu disampaikan disini, yakni masalah peristilahan, terutama penulisan jargon dan genre ( orang Indonesia menyebutnya “ aliran“ ) musik. Sebutlah grind core, hard core, punk rock, riff, scene, lead. Saya dan penulis sempat kebingungan, mana kata yang harus dimiringkan, mana yang tidak; mana frasa yang harus di satukan, mana yang tidak. Kita – orang Indonesia – sayangnya belum memiliki padanan kata untuk kata – kata tersebut. Untuk istilah Underground kami memutuskan menerjemahkannya menjadi “Bawahtanah”, bukan “Bawah Tanah”. Ya, kami menyatukannya menjadi sebuah kata mandiri, semandiri para pelakunya dalam bergerilya memperjuangkan idealisme mereka dalam bermusik. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 2005, misalnya, belum juga mencantumkan kata padanan atau serapan untuk istilah – istilah tersebut. Ini memperlihatkan secara jelas bahwa pemerintah dan ahli – ahli bahasa tak penuh perhatian terhadap perkembangan budaya anak muda secara global!” ( hal.14 ). Bagian selanjutnya yang berjudul The Legacy Lives On And On dibuka dengan kisah launching album partynya Burger Kill, Beyond Coma And Despair di Dago Tea House, 20 agustus 2006. Setelah menggeber habis 8 lagu oleh Burger Kill dan ribuan penonton yang menyemut di arena. Suasana mendadak diam dan gelap. Dalam suasana diam yang membius tampillah Addy gembel dari Forgotten menenteng kertas. Sahabat Ivan Scumbag ini kemudian membawakan puisi yang dibuka dengan sepenggal kalimat “aku melihat kematian begitu indah”. Setelah pembacaan puisi suasana yang diam dan gelap mendadak benderang diiringi dentuman drum menderu – deru layaknya ribuan mesin tempur menggempur. Lagu sakit jiwa akhirnya dimainkan malam itu. Tetapi lagu ini dibiarkan kosong tanpa raungan vocal. Sebuah lagu penghormatan terakhir untuk sang vokalis, SCUMBAG!. Rebel To Nothing(Ness) adalah bagian berikutnya, di bagian ini banyak menceritakan kisah kehidupan Ivan dari Ia lahir hingga masa – masa sekolah sampai tingkat SMA. Dan juga fase dimana Ivan Scumbag berpadu dengan kawan – kawannya dalam sebuah kelompok. Ia dan kawan – kawan SMPnya membentuk komplotan pecinta Grind core. Namanya CGFB, singkatan dari Corpse Grinder Foundation Bandung. Kemudian juga ada kisah pertemuannya dengan Eben, punker asal Jakarta. Yang nantinya membentuk Burger Kill bersama Kimung dan Ivan. Dari Eben inilah Ivan dan juga Kimung mengenal musik punk rock dan hard core old school. Di bagian ini juga di ceritakan mengenai poseur yang mulai merepotkan komunitas Ujung Berung. “Agustus 1995, komunitas musik metal bawahtanah Ujung Berung mulai direpotkan sama Grinder-Poser. Dalam bahasa kurang ajarnya, para poser itu dijuluki “Borok”. Padahal yang menentukan siapa yang sebenarnya borok bagaikan maling teriak maling. Tak jelas juga definisi dan batasan “Borok” itu seperti apa. Tapi memang para “Borok” itu sangatlah mengganggu. Tipikal mereka sama, para Trendism yang memanfaatkan trend metal dan bawahtanah untuk tampil demi diri sendiri. Mereka biasanya belagu. Yang laki – laki biasanya memanfaatkan citra macho musik metal untuk menggelapkan mata cewek – cewek. Yang perempuan biasanya adalah groupies yang mau numpang keren.”( Hal. 65 ). Bagian ke-5 berjudul Revolt : Burger Kill Homeless Crew menceritakan panggung pertama Burger Kill di halaman kantor kelurahan Kaum Kidul, Ujung Berung, Agustus 1995. Kemudian juga panggung ke-2 dan beberapa acara berikutnya di Jakarta. Burger Kill pada masa itu masih sering membawakan lagu-lagu dari band-band luar seperti : Minor Threat, Shelter, Gorilla Biscuits, Youth Of Today, Sick Of It All, The Exploited, Black Flag,7 Second, Circle Jerks dan DFL. Serta cerita mengenai lagu pertama Burger Kill yang di ciptakan Ivan dan Kimung di siang-siang terpanas musim kemarau 1995 yang berjudul, Revolt. Kemudian masih ada 9 bagian lagi yang saya tidak ceritakan disini. Masing-masing bagian berjudul : Tattoed everything, Jatinangor Blues : 2 Sisi, Purnawarman Fever, Berkarat, Beyond Coma And Despair, The End, Who said there will be quiet after the storms?!. Serta bagian penutup yang di tulis oleh Gustaff H. Iskandar, yang berjudul After Word – Keluar Dari Kerumunan : Tribute Untuk Ivan Scumbag dan bagian terakhir, Mereka Yang Bercerita Di Buku Ini. Yang berisikan sumber-sumber yang menyumbangkan kisah tentang Ivan kepada penulis, baik dari pihak keluarga, sahabat hingga sumber-sumber tertulis yang ada di bindar dan buku-buku harian Ivan era 1995 sampai 2006 dan artikel-artikel di media massa. Di bagian akhir buku ini yang berjudul After World – Keluar Dari Kerumunan. Saya menemukan kalimat menarik yang di tulis oleh Gustaff H. Iskandar mengenai sosok Ivan dan sikap pantang menyerahnya serta totalitasnya dalam bermusik. “Pengabdiannya pada perkembangan musik cadas adalah komitmen seumur hidup. Dia mengerahkan semua daya upaya untuk tetap mempertahankan konsistensi dan komitmennya pada musik dan tidak kepada yang lainnya. Sungguh sebuah sikap yang langka di tengah-tengah gemuruh dominasi industri musik mainstream yang kini tengah mandeg karena terlalu kompromis terhadap kepentingan pemilik modal yang berfikir dangkal. Dengan semangatnya, Ivan mengerahkan segala daya upaya agar musiknya bisa terus hidup bersama-sama dengan Burger Kill dan teman-temannya di Ujung Berung.” (Hal. 366). Terlepas dari segala kekurangannya, Buku ini merupakan buku “Biografi” pertama mengenai seseorang yang menjalani sebagian besar hidupnya dalam komunitas musik bawahtanah yang pernah di tulis di Indonesia. Akhir kata, Welcome To The Underground! All Hail Scumbag!

  7. 4 out of 5

    Ackhirul Riznan

    Buku keren yang mengupas profil salah satu musisi legendaris yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan komunitas musik Ekstrim di Indonesia. Buku ini bukan hanya menceritakan kisah hidup seorang Ivan Scumbag, tapi juga membahas geliat semangat perjuangan para pionir yang begelut di ranah musik independen, tentang bagai mana mereka membangun sebuah komunitas yang solid yang akhirnya melahirkan sebuah industri baru yang idealis

  8. 5 out of 5

    IRHS

    "Maneh mun rek hirup terus mah tong ngedengerkeun omongan batur. Masalah maneh mah ngan bisa kurasa kumaneh sorangan, batur mah teu bisa ngarasa, ngan bisa ngomong hungkul". Goddamn. "Maneh mun rek hirup terus mah tong ngedengerkeun omongan batur. Masalah maneh mah ngan bisa kurasa kumaneh sorangan, batur mah teu bisa ngarasa, ngan bisa ngomong hungkul". Goddamn.

  9. 5 out of 5

    Ahmad Nizamuddin

    I didn’t go to the Burgerkill show in KL recently and the only stuffs I listened to Burgerkill are the Breathless compilation (re-released by Anak Liar Records) and also Threeway Split Release featuring Burgerkill, Watch It Fall (France) and Malaysia’s Infireal also by Anak Liar. My favorite song from them is of course ‘Rendah’. This book in Indonesian language is a detailed story about the life of late Ivan Scumbag, the vocalist of the legendary hardcore band from Ujungberung, Bandung, Indonesi I didn’t go to the Burgerkill show in KL recently and the only stuffs I listened to Burgerkill are the Breathless compilation (re-released by Anak Liar Records) and also Threeway Split Release featuring Burgerkill, Watch It Fall (France) and Malaysia’s Infireal also by Anak Liar. My favorite song from them is of course ‘Rendah’. This book in Indonesian language is a detailed story about the life of late Ivan Scumbag, the vocalist of the legendary hardcore band from Ujungberung, Bandung, Indonesia. I salute the writer, Kimung for having a very detailed research despite it’s tiring sometime to read everything. Reading about Ivan and his band meaning you’ll also learn about the history of underground music scene in Indonesia and specifically in Bandung; the first underground fanzine, the first distro, the first hardcore/punk compilation and not to forget the band list that rocked the stages during the mid 90’s there. Even though the band eventually signed to a major label and the guy is a rock star wannabe, I bet he’s not the kinda guy with rock star attitude. This book that I bought at the Alternative Book Fair is a good documentation in writing format of the Indonesian hardcore/punk published in 2007.

  10. 4 out of 5

    Erzi

    Buku pertama yg mengupas biografi seorang pionir HC Indonesia, dokumentasi sejarah band HC Indonesia yg mendunia... Ivan adalah Burgerkill!! Penyampaian alurnya membawa pembaca bagai ikut mengenal scr emosional dg Ivan. Kimung sangat hebat merangkum semua memori kawan-kawan Ivan, dan menceritakan kembali dalam bentuk buku. Dan Kimung memang mendedikasikan buku ini utk sahabatnya sendiri, yaitu Ivan, yg sdh dikenalnya sejak SMP. Salut utk Kimung! Sedang bagi saya, buku ini sbg pengingat kpd sahabat s Buku pertama yg mengupas biografi seorang pionir HC Indonesia, dokumentasi sejarah band HC Indonesia yg mendunia... Ivan adalah Burgerkill!! Penyampaian alurnya membawa pembaca bagai ikut mengenal scr emosional dg Ivan. Kimung sangat hebat merangkum semua memori kawan-kawan Ivan, dan menceritakan kembali dalam bentuk buku. Dan Kimung memang mendedikasikan buku ini utk sahabatnya sendiri, yaitu Ivan, yg sdh dikenalnya sejak SMP. Salut utk Kimung! Sedang bagi saya, buku ini sbg pengingat kpd sahabat saya Merry, kekasih Ivan yg kini sdh bahagia berkumpul kembali...

  11. 4 out of 5

    Yohan Dhiwa

    Tidak mudah untuk membentuk keyakinan seperti yang menginspirasi Ivan, hingga sampai pada titik konsisten,dan dengan perjuangan yang tanpa lelah sampai dapat berhasil dengan misinya sebagai "Ivan Scumbag". Baru pertama kali saya membaca buku tentang kisah seorang musisi konsisten yang dibukukan. Membaca buku ini serasa ada rasa takut,tertawa,dan bangga, mengalir apa adanya,jujur dan takjub! Tidak mudah untuk membentuk keyakinan seperti yang menginspirasi Ivan, hingga sampai pada titik konsisten,dan dengan perjuangan yang tanpa lelah sampai dapat berhasil dengan misinya sebagai "Ivan Scumbag". Baru pertama kali saya membaca buku tentang kisah seorang musisi konsisten yang dibukukan. Membaca buku ini serasa ada rasa takut,tertawa,dan bangga, mengalir apa adanya,jujur dan takjub!

  12. 4 out of 5

    Karina

    Buku ini merupakan buku yang membahas mengenai Ivan "Scumbag" Firmansyah, vokalis band metal kenamaan di Kota Bandung, yaitu Burgerkill, yang meninggal karena penyakitnya. Ivan Scumbag adalah seorang musisi yang bagi para pendengar aliran musik bawah tanah merupakan nama yang familiar dan seringkali dikagumi. Buku ini cukup mewakili para penggemarnya untuk mengenal lebih jauh mengenai Ivan Scumbag, dan dikemas dengan berani, karena hal-hal yang dianggap tabu pun disertakan di dalamnya. Buku ini merupakan buku yang membahas mengenai Ivan "Scumbag" Firmansyah, vokalis band metal kenamaan di Kota Bandung, yaitu Burgerkill, yang meninggal karena penyakitnya. Ivan Scumbag adalah seorang musisi yang bagi para pendengar aliran musik bawah tanah merupakan nama yang familiar dan seringkali dikagumi. Buku ini cukup mewakili para penggemarnya untuk mengenal lebih jauh mengenai Ivan Scumbag, dan dikemas dengan berani, karena hal-hal yang dianggap tabu pun disertakan di dalamnya.

  13. 5 out of 5

    Eq

    another biographical book that i read. It came from my own country, a tale about a man with so many inner conflicts. So many information i get from this book especially the things that concerning with underground-scene from Bandung City. Another thing that is important in this book is the story of a band called "burgerkill" which is quite legendary in Bandung underground-scene. another biographical book that i read. It came from my own country, a tale about a man with so many inner conflicts. So many information i get from this book especially the things that concerning with underground-scene from Bandung City. Another thing that is important in this book is the story of a band called "burgerkill" which is quite legendary in Bandung underground-scene.

  14. 5 out of 5

    Muhammad Fauzan

    aaaaaaaaaada

  15. 4 out of 5

    Sabita Luqman

    berat

  16. 5 out of 5

    Anggaracorpse Geztavohooligan

    Ivan Scumbag , Saya ingat saat saya dan kakak saya meneuinya saat ia masih dalam keadaan bugar , namun sekarang ? dia sudah pulang.

  17. 4 out of 5

    Bagus Bhakti

    want to read

  18. 4 out of 5

    Azmi Puji

    gimana bacanya ini

  19. 4 out of 5

    Dhepino Gunawan

    i wanna know this book.

  20. 5 out of 5

    Sandy Yanuar

  21. 5 out of 5

    Oxtha Killms

  22. 5 out of 5

    Ujung Flores

  23. 4 out of 5

    Zulhady

  24. 4 out of 5

    Galih Dana

  25. 4 out of 5

    Mint17

  26. 4 out of 5

    Winasis

  27. 4 out of 5

    Jogik

  28. 5 out of 5

    Steve

  29. 5 out of 5

    Steve

  30. 5 out of 5

    Hikaru Light

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.