web site hit counter Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia - Ebooks PDF Online
Hot Best Seller

Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia

Availability: Ready to download

In Indonesia, light skin color has been desirable throughout recorded history. Seeing Beauty, Sensing Race explores Indonesia’s changing beauty ideals and traces them to a number of influences: first to ninth-century India and some of the oldest surviving Indonesian literary works; then, a thousand years later, to the impact of Dutch colonialism and the wartime occupation In Indonesia, light skin color has been desirable throughout recorded history. Seeing Beauty, Sensing Race explores Indonesia’s changing beauty ideals and traces them to a number of influences: first to ninth-century India and some of the oldest surviving Indonesian literary works; then, a thousand years later, to the impact of Dutch colonialism and the wartime occupation of Japan; and finally, in the post-colonial period, to the popularity of American culture. The book shows how the transnational circulation of people, images, and ideas have shaped and shifted discourses and hierarchies of race, gender, skin color, and beauty in Indonesia. The author employs “affect” theories and feminist cultural studies as a lens through which to analyze a vast range of materials, including the Old Javanese epic poem Ramayana, archival materials, magazine advertisements, commercial products, and numerous interviews with Indonesian women. The book offers a rich repertoire of analytical and theoretical tools that allow readers to rethink issues of race and gender in a global context and understand how feelings and emotions—Western constructs as well as Indian, Javanese, and Indonesian notions such as rasa and malu—contribute to and are constitutive of transnational and gendered processes of racialization. Saraswati argues that it is how emotions come to be attached to certain objects and how they circulate that shape the “emotionscape” of white beauty in Indonesia. Her ground-breaking work is a nuanced theoretical exploration of the ways in which representations of beauty and the emotions they embody travel geographically and help shape attitudes and beliefs toward race and gender in a transnational world.


Compare

In Indonesia, light skin color has been desirable throughout recorded history. Seeing Beauty, Sensing Race explores Indonesia’s changing beauty ideals and traces them to a number of influences: first to ninth-century India and some of the oldest surviving Indonesian literary works; then, a thousand years later, to the impact of Dutch colonialism and the wartime occupation In Indonesia, light skin color has been desirable throughout recorded history. Seeing Beauty, Sensing Race explores Indonesia’s changing beauty ideals and traces them to a number of influences: first to ninth-century India and some of the oldest surviving Indonesian literary works; then, a thousand years later, to the impact of Dutch colonialism and the wartime occupation of Japan; and finally, in the post-colonial period, to the popularity of American culture. The book shows how the transnational circulation of people, images, and ideas have shaped and shifted discourses and hierarchies of race, gender, skin color, and beauty in Indonesia. The author employs “affect” theories and feminist cultural studies as a lens through which to analyze a vast range of materials, including the Old Javanese epic poem Ramayana, archival materials, magazine advertisements, commercial products, and numerous interviews with Indonesian women. The book offers a rich repertoire of analytical and theoretical tools that allow readers to rethink issues of race and gender in a global context and understand how feelings and emotions—Western constructs as well as Indian, Javanese, and Indonesian notions such as rasa and malu—contribute to and are constitutive of transnational and gendered processes of racialization. Saraswati argues that it is how emotions come to be attached to certain objects and how they circulate that shape the “emotionscape” of white beauty in Indonesia. Her ground-breaking work is a nuanced theoretical exploration of the ways in which representations of beauty and the emotions they embody travel geographically and help shape attitudes and beliefs toward race and gender in a transnational world.

30 review for Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia

  1. 4 out of 5

    Teguh

    Buku ini adalah guncangan intelektual yang ajaib. Bagaimana tidak, saya yang meyakini sejak lama bahwa putih selalu identikan dengan kepentingan bisnis kosmetik dan rasis semata, mendadak semakin terperangah oleh paparan buku ini. Dengan gamblang dijelaskan (meski saya harus berulang kali membalik ulasan soal dasar teori afeksi yang dipergunakan oleh penulis) bahwa putih sudah menjadi standar kecantikan bahkan sejak Ramayana. Terus berlanjut ketika Belanda datang, Jepang datang di masa kolonial. Buku ini adalah guncangan intelektual yang ajaib. Bagaimana tidak, saya yang meyakini sejak lama bahwa putih selalu identikan dengan kepentingan bisnis kosmetik dan rasis semata, mendadak semakin terperangah oleh paparan buku ini. Dengan gamblang dijelaskan (meski saya harus berulang kali membalik ulasan soal dasar teori afeksi yang dipergunakan oleh penulis) bahwa putih sudah menjadi standar kecantikan bahkan sejak Ramayana. Terus berlanjut ketika Belanda datang, Jepang datang di masa kolonial. Kemudian pengaruh Amerika di masa orde baru dan hingga paling anyar adalah putih kosmopolitan. Di buku ini pula saya menjadi yakin bahwa bila kita masih memandang putih-gelap kulit perempuan, maka alam sadar kita juga masih memandang perempuan sebagai subjek. Dan penulis menjelaskan pula, hal ini dikarenakan sejak bayi perempuan selalu didekatkan dengan banyak pujian 'cantik' dan juga perempuan selalu harus dandan. Kemudian di titik ini saya bertanya, bagaimana dengan sekarang di mana fenomena cantik tidak hanya dimiliki oleh perempuan? Laki-laki juga sekarang banyak sebagai konsumen kosmetik, pelanggan salon, bangga kalau berwajah cantik yang menonjolkan feminin? Ah buku yang benar-benar ajaib.

  2. 4 out of 5

    miaaa

    Finally I can finish this book, went on a trip whilst half through the book, and it's such an eye opener. When I was child, I often heard someone told my mum "Oh so this is the eldest? She's white!" and I thought -whilst looking at my arm "What do you mean with white? I'm brownish". Then when I went to university in Malang several time I heard few said they've met only few whitish Bataknese and asked if that is certain Bataknese's tribe traits. I have never think about my skin colour, in fact I wo Finally I can finish this book, went on a trip whilst half through the book, and it's such an eye opener. When I was child, I often heard someone told my mum "Oh so this is the eldest? She's white!" and I thought -whilst looking at my arm "What do you mean with white? I'm brownish". Then when I went to university in Malang several time I heard few said they've met only few whitish Bataknese and asked if that is certain Bataknese's tribe traits. I have never think about my skin colour, in fact I worried more about my pimples and my big thighs during adolescence. When I joined a sport chat room and summer or tanning time topic came up they all said that I was lucky with tanned skin. I'd love to have healthy skin rather than whitish one, and no I'm not white or clearer or whatever it is as Ayu Saraswati said here: "Dengan menunjukkan bagaimana putih kosmopolitan dibentuk, saya menyatakan bahwa tidak ada satu ras pun yang mengisi putih kosmopolitan yang autentik karena sedari awal tidak pernah ada putih macam itu 'dalam kenyataannya': putih adalah kualitas virtual, tampak nyata tetapi tidak nyata." (hlm. 223)

  3. 5 out of 5

    Dea Basori

    Saya merasa begitu banyak mendapatkan pandangan mengenai asal-usul superioritas kulit putih dari buku Putih karya L. Ayu Saraswati yang diterbitkan oleh Marjin Kiri. Apa yang saya baca dari buku Putih ini sangat memberikan komprehensif menjelaskan bagaimana superioritas terhadap kulit yang disebut Putih ini berasa, sehingga tidak mungkin diringkas dalam satu judul. Saya pun merasa perlu turut mengapresiasi Ninus Andarnuswari karena terjemahannya sangat bagus dan rapih serta kontekstual namun tet Saya merasa begitu banyak mendapatkan pandangan mengenai asal-usul superioritas kulit putih dari buku Putih karya L. Ayu Saraswati yang diterbitkan oleh Marjin Kiri. Apa yang saya baca dari buku Putih ini sangat memberikan komprehensif menjelaskan bagaimana superioritas terhadap kulit yang disebut Putih ini berasa, sehingga tidak mungkin diringkas dalam satu judul. Saya pun merasa perlu turut mengapresiasi Ninus Andarnuswari karena terjemahannya sangat bagus dan rapih serta kontekstual namun tetap memberikan rasa si penulis dengan jelas. Ninus juga memiliki perspektif feminis sehinga padupadanan kata sangat tepat disampaikan dalam buku ini. Buku Putih menyajikan sejarah bagaimana kulit Putih dan warna itu sendiri sangat diagungkan. Kita cenderung melihat bahwa adanya pengaguman yang berlebihan terhadap kulit Putih itu sendiri berasal dari kolonialisme namun sejarah Putih di tanah Jawa dapat menjadi standar kecantikan berasal dari sebelum peradaban pra kolonial. Penulis menceritakan bagaimana masyarakat Hindu yang berasal dari India mengadaptasi epos Ramayani. Namun disaat itu kata Putih berupaya memberikan ‘rasa’ ketika tarian Ramayana hendak ditampilkan. Selain itu penjelasan terhadap Putih selalu dikaitkan dengan Bulan sebagai perumpaman. Memasuki masa penjajahan, disinilah makna Putih kemudian menjelma menjadi makna Putih ras terhadap orang kaukasia. Menjadi layaknya orang Putih, orang Indonesia mulai mengadopsi gaya hidup orang Belanda terutama pada kalangan bangsawan dan priyayi. Disini Putih tidak hanya menjadi penanda ras, namun Putih menjadi status sosial. Putih berkembang dari rasa hinga menjadi supremasi dan sebuah bentuk modernitas baru yang dianggap lebih maju ketimbang masyarakat primitif. Selain itu, konteks ras Putih juga mulai melibatkan orang-orang dari Asia Timur yaitu orang Jepang dan Tionghoa yang merupakan pendatang atau yang sudah lama bermukim di Indonesia. Mereka dinobatkan sebagai orang Eropa hanya karena putihnya kulit mereka. Buku Putih bisa didapatkan di Marjin Kiri Konteks Putih kemudian dijelaskan selanjutnya dalam konteks pasar. Perjalanan Putih dijelaskan bersamaan dengan sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Sebagai bentuk melawan imperialisme, Soekarno menolak adanya investasi asing dan pengaruh budaya barat. Di era ini iklan sabun yang menggunakan terminologi Putih berkurang namun produk kecantikan lokal cukup banyak menggunakan model Indonesia yang kulitnya lebih terang. Ketika Soeharto berkuasa, masuknya pasar dunia ke Indonesia mengubah bagaimana kulit putih dilihat. Putih kaukasia diimpor bersamaan dengan majalah-majalah serta hiburan-hiburan yang berasal dari luar negeri. Penulis juga melakukan wawancara yang mendalam terhadap beberapa koresponden perempuan dan sikap mereka terhadap penampilan kulit mereka yang tidak putih. Disini penulis mengeksplorasi kata malu yang digunakan oleh perempuan yang dikatakan tidak memiliki kulit putih. Perasaan malu karena memiliki kulit hitam juga membuat mereka menggunakan krim pemutih. Disini penulis dengan pandai mngungkap bagaimana perempuan dengan sembunyi-sembunyi menggunakan krim pemutih untuk tidak menjadi perhatian karena kulitnya lebih hitam. Kulit putih dianggap sebagai sebuah kenormalan karena tak menarik perhatian sedangkan kulit yang cenderung hitam dapat mengungang perhatian dan perisakkan yang tak diinginkan. Yang menarik adalah warna kulit yang dianggap putih ini tak lagi dianggap penting tatkal seseorang sudah mencapai status eknomi tertentu. Perempuan tak lagi menggantungkan standarnya pada kulit putih karena mereka tak mengukur dirinya dari warna kulitnya yang akhirnya dijadikan daya tarik bagi lelaki. Tentunya penulis menyadari bahwa penelitiannya masih sangat heteronormatif pada konteks Indonesia, namun pada 4 orang perempuan lesbian yang ia temui ia juga menemukan pendapat yang sama bahwasannya perempuan yang lebih putih kulitnya dianggap lebih menarik, tetapi bukan berarti itu bisa dijadikan kesimpulan atau acuan terhadap preferensi perempuan lesbian. Penulis juga mencoba membandingkan tren penggelap kulit yang dilakukan oleh orang kaukasia dan tren pemutih yang dilakukan oleh orang non kaukasia. Tentu saja ada relasi yang berbeda karena orang kaukasia punya kontrol dan kuli putih mereka masih menjadi standar dan norma dunia sedangkan orang non kaukasia tidak punya kontrol yang sama dan relasinya pun berbeda. Tentunya penelusuran supremasi Putih sebagai suatu rasa, status, norma, pasar, malu tidak berhenti disitu saja. Saya tidak bisa merangkum apa yang saya baca ke dalam kurang dari 700 kata. Namun yang saya suka dari buku ini adalah perjalanan sejarah yang diceritakan dari berbagai perspektif dan situasi perpolitikan dunia. Proses penulis membongkar putih melihat dari sejarah dunia hingga pasar serta dari sudut komunikasi dan psikologi. Tentunya proses ini adalah proses dekolonialisasi yang tak melupakan perspektif perempuan karena tentunya perempuan yang menjadi korban dari supremasi putih ini. Dari semua referensi bacaan yang ia jelaskan, membuat saya penasaran, ini penulis baca buku apa saja sih? Belum lagi dengan wawasannya sang penerjemah yang cukup lihai menjelaskan apa yang hendak disampaikan penulis karena tidak semua penerjemah memiliki bahasa pengetahuan yang sama dengan apa yang hendak diterjemahkan. Sangking bagusnya buku ini, saya menyelesaikannya dalam sehari. Jarang sekali saya bisa menyelesaikan sebuah bukudalam sehari. Tentu saja buku ini ada beberapa kekurangan karena buku ini merupakan desertasi dan hasil penelitian penulis sehingga tidak semua bisa ia ungkapkan namun ia berhasil menjelaskan dengan baik. Tentunya penggunaan perspektif feminis tidak untuk berpihak tapi untuk memberi penjelasan terhadap pembaca mengenai dampak sebuah norma Putih terhadap perempuan. Saya sangat merekomendasikan buku ini terutama bagi teman-teman mahasiswa yang sekedar ingin memahami feminisme hingga proses dekolonialisasi, atau mahasiswa hubungan internasional yang hendak memahami soft power negara-negara dalam mengimpor pemahaman, atau mungkin mahasiswa komunikasi dan psikologi yang hendak mendalami standar kecantikan di Indonesia.

  4. 5 out of 5

    Kahfi Ananda

    Secara garis besar, buku ini sangat relevan untuk urusan memetakan sejarah panjang kecantikan. Adapun buku ini sejatinya merupakan kajian gender yang kemudian dipadukan dengan kajian sejarah berbalut ekses sosiologi. Meskipun dari segi bahasa agak terlihat sukar untuk dipahami, namun buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca terutama bagi yang ingin memahami persoalan terkait warna kulit, ras dan gender perihal kaitan nya dalam merekonstruksi dan mengendalikan perempuan terutama wajahnya.

  5. 5 out of 5

    Marina

    ** Books 04 - 2020 ** Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020 3,6 dari 5 bintang! Ketika aku berkunjung ke Pameran buku Patjarmerah di M Bloc hari kamis lalu aku sudah penasaran sama buku ini apalagi sinopsisnya yang menjelaskan tentang kenapa warna kulit putih menjadi standar kecantikan untuk wanita di indonesia? Setelah membaca buku ini saya mengetahui bahwa perjalanan itu sangatlah panjang. Dimulai sejak jaman Kitab Ramayana lalu berlanjut ke iklan-iklan kecantikan tentang ku ** Books 04 - 2020 ** Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020 3,6 dari 5 bintang! Ketika aku berkunjung ke Pameran buku Patjarmerah di M Bloc hari kamis lalu aku sudah penasaran sama buku ini apalagi sinopsisnya yang menjelaskan tentang kenapa warna kulit putih menjadi standar kecantikan untuk wanita di indonesia? Setelah membaca buku ini saya mengetahui bahwa perjalanan itu sangatlah panjang. Dimulai sejak jaman Kitab Ramayana lalu berlanjut ke iklan-iklan kecantikan tentang kulit putih dan perempuan kaukasia sampai di titik akhir rasa malu di kalangan perempuan indonesia jika memiliki kulit yang berwarna gelap karena dianggap tidak cantik. Buku ini menelusuri jaman demi jaman untuk mengetahui dari mana asal kulit putih sebagai standar kecantikan. Suatu hal yang mengagumkan penulis mencari tahu semua itu yang dirangkum menjadi satu didalam buku ini. Sejujurnya saya suka sekali dengan pembahasan buku ini karena secara tidak langsung saya jadi kembali belajar sejarah indonesia dan bahkan baru tahu juga kalau makan ketupat saat lebaran ternyata budaya hindu jawa haha.. namun karena bahasanya akademis mungkin buku ini kurang pas dibaca sama beberapa orang yang kurang menyukai bahasa akademis sebagai bacaan dikala santai. Terimakasih Patjarmerah 2020!

  6. 4 out of 5

    Jimmy

    Menarik! Saya cuma bisa bilang... kalau mau tahu kenapa kulit putih dijadikan standar kecantikan, bacalah buku kajian ini. Oh ya, ternyata ada juga "penggemar" kulit putih yang memilih-milih, bahkan (cenderung) rasis.

  7. 5 out of 5

    Indah Threez Lestari

    752 - 2019

  8. 4 out of 5

    Vivi Laquet

    Sewaktu masih duduk di sekolah menengah, di sela-sela jam pelajaran, teman-teman perempuan saya selalu sibuk membicarakan kosmetik atau bahan racikan pemutih, mulai dari wajah hingga seluruh badan. Katanya, mempunyai kulit gelap sudah menjadi kebiasaan dikucilkan dan menjadi bahan tertawaan. Dan benar, saya punya seorang teman berkulit gelap yang sudah akrab disapa ‘Si Hitam’ oleh seluruh siswa, bahkan guru-guru. Teman saya pun sama sekali tidak merasa tersinggung atau marah, seolah ia menerima Sewaktu masih duduk di sekolah menengah, di sela-sela jam pelajaran, teman-teman perempuan saya selalu sibuk membicarakan kosmetik atau bahan racikan pemutih, mulai dari wajah hingga seluruh badan. Katanya, mempunyai kulit gelap sudah menjadi kebiasaan dikucilkan dan menjadi bahan tertawaan. Dan benar, saya punya seorang teman berkulit gelap yang sudah akrab disapa ‘Si Hitam’ oleh seluruh siswa, bahkan guru-guru. Teman saya pun sama sekali tidak merasa tersinggung atau marah, seolah ia menerima pembentukan objek pada dirinya sendiri. Anehnya, siswa yang paling berkulit terang di kelas tidak mendapatkan julukan sebaliknya seperti ‘Si Putih’. Saya pun yakin, bahwa sesuatu yang berterma gelaplah yang mutlak menerima predikat di lingkungannya. L. Ayu Saraswati menulisnya seperti ini, “Di Indonesia, berkulit putih dipandang sebagai norma kecantikan. Obsesi memiliki kulit putih membuat produk pemutih kulit menduduki tempat teratas dalam penjualan industri kosmetik.” Buku karya L. Ayu Saraswati mencoba membuka sejarah rasial yang tidak hanya terjadi di Barat saja, melalui wacana kulit putih, masyarakat Indonesia turut berkontribusi atas rasialisme yang tiada henti-hentinya yang terjadi di belahan dunia bagian Barat maupun Timur. L. Ayu Saraswati membukanya dengan menceritakan ideal kecantikan, se¬perti terlihat dari epos India Ramayana yang diadaptasi di Jawa pada akhir abad ke-9. Pembedaan terdapat pada epos ini memuji-muji kecantikan Sita yang digambarkan wajah putih bercahaya yang diumpakan bulan purnama serta tokoh ‘Si Jahat Berkulit Gelap’ Rahwana digambarkan berkulit gelap. Disini nampak jelas terdapat pembedaan pada watak-watak tokoh yang berkaitan dengan penggambaran rupa mereka. L. Ayu Saraswati kemudian menjelaskan karya epos dapat mempengaruhi sebuah simpulan sejarah. Ia menegaskan terdapat Afek atau rasa yang ditimbulkan dan mempengaruhi pola-pola pikir tertentu dan menjadi cikal bakal sebuah penghapusan sejarah, sensor, bahkan upaya pemberian ras. Dari epos tersebut, saat penulis-penulis sastra cenderung memiliki emosi terhadap sesuatu yang membuatnya senang dan bahagia, bukan menjadi tidak mungkin akan ia tuangkan lagi dalam tulisan-tulisan selanjutnya. Sehingga, ketika ia beranggapan bahwa sesuatu yang bersifat terang menarik perhatiannya, itu akan tertanam pada ingatan dan menjadi inspirasi atas tulisan-tulisan selanjutnya. Rasa dicatat dalam pikiran (ingatan) dan bisa juga melalui tubuh (ingatan otot). Dengan demikan, tidak hanya ingatan, tubuh juga menandai gerakan-gerakan tertentu yang dilakukan berulang-ulang seperti tarian bahkan tanpa pikiran sadar. Apabila terdapat epos yang begitu mahsyur, akan menimbulkan afek pada pembacanya yang memengaruhi secara sadar maupun tak sadar dan kian membentuk atau menghapus sejarah. Misalnya berkulit terang, diyakini sebagai sesuatu yang indah, dan gelap sesuatu yang buruk. Di buku in juga saya menemukan bahwa ‘Putih’ kemudian menjadi standar kecantikan, yang berubah-ubah pada tergantung masanya di Indonesia, mulai dari kulit putih ras Kaukasian, lalu putih Jepang kemudian yang paling anyar iala putih Kosmopolitan. Sayangnya, pada buku ini hanya menjelaskan secara historis namun belum membuka lebar problem filosofis mengapa kulit putih atau berkulit terang menjadi lebih dibanggakan ketimbang berkulit gelap. Mengingat, judul hanya membatasi pada wacana kecantikan di Indonesia menjadi lebih sulit untuk mengupas darimana datang asal pembedaan rasial tersebut. Misalnya pada epos Ramayana, pertanyaan mengapa penyair seolah menggambarkan tokoh protagonis dengan karakter yang berkulit cerah dan terang sedang antagonis sebaliknya belum dijelaskan. Melalui buku ini saya lebih paham akan alurnya sejarah, mengutip L. Ayu Saraswati bahwa Sejarah menjadi narasi yang dapat menormalisasi dan mengalamiahkan perasaan kita tentang peristiwa dan tokoh-tokoh bersejarah. Dibalik apa yang diyakini sebagai sesuatu yang wajar sesungguhnya terdapat banyak teka-teki dibelakangnya. Siapa yang tahu bahwa dulunya tubuh montok lebih disukai daripada tubuh langsing seperti sekarang. Keuntungan mempelajari sejarah ialah, orang-orang tak perlu mempermasalahkan sesuatu diluar kuasanya. Sebab, tidak ada sesuatu yang benar-benar abadi. Dalam hal ini obsesi terhadap penggambaran cantik dapat direduksi. Yang tidak kalah penting, bagaimana bisa putih seakan membentuk gendernya sendiri di Indonesia. Putih cantik hanya dilekatkan pada perempuan tidak pada laki-laki. Membentuk karakter yang feminin. Misalnya pada iklan-iklan kecantikan postmo yang hanya menampilkan perempuan sebagai objek iklan untuk tampil cantik dan bersih. Sehingga dapat menjadi isu sensitif bagi sebagian kelompok, misalnya kaum feminist yang mengidam-idamkan kesetaraan. Iklan-iklan kecantikan tersebut bukan tidak mungkin turut menyumbang pembedaan antara feminin dan maskulin di Indonesia. Jawabannya belum saya temukan pada buku L. Ayu Saraswati ini. Nilai plusnya, buku ini dapat melacak penyebaran citra keantikan antar geografis berdasar era kesejarahannya, serta sirkulasi transnasional yang meneruskan supremasi putih sehingga membentuk konstruksi gender dan warna kulit di Indonesia

  9. 4 out of 5

    Arya Harsono

    This book has been on my list for some time and I am glad to be finally reading it. In the midst of the George Floyd protests and racism/anti-racism dialogues across social media, Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia is certainly a relevant addition to the suggested literature. (But keep reading and educating!! Stamped: Racism, Antiracism, and You, How to Be an Antiracist - hell, even White Fragility: Why It’s So Hard for White People to Talk About Racism, if its your first for This book has been on my list for some time and I am glad to be finally reading it. In the midst of the George Floyd protests and racism/anti-racism dialogues across social media, Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia is certainly a relevant addition to the suggested literature. (But keep reading and educating!! Stamped: Racism, Antiracism, and You, How to Be an Antiracist - hell, even White Fragility: Why It’s So Hard for White People to Talk About Racism, if its your first foray into anti-racist literature). A note: it is very academic (it is a dissertation after all). In The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion, Jonathan Haidt contends that drawing attention to race and ethnicity risks widening racial and ethnic divides. But, as I commented in my review, it depends on scale. In an organizational setting, the approach can break barriers and foster cooperation. But at a national scale, it may only apply during transitional phases. Moreover, hosting several "hives" is more effective at aligning the diversity of ideas within a country (but with increasing connectivity, we succumb to confirmation bias and echo chambers, too). This reminded me much of Sukarno's Pancasila model, which he hoped would unite the Indonesian people under one flag by requiring monotheism, adopting a standardized national language, and the identification as a national Indonesian rather than by race or ethnicity. As such, this book was a fantastic follow up. Saraswati's discussion of affective reactions (referred to as rasa) parallels that of Haidt's elephant and rider model. Through a thorough examination of the Ramayana, she argues that perceptions of light (white) as good and dark (black) as bad exist even in folklore prior to Dutch colonization, suggesting that colorism is not a product of European conquest per se (certainly, it perpetuated racial and ethnic divides). It begs the question whether racism is inherent (something that Haidt also discussed) or if societal norms, through art, culture, and literature, locked-in the "us vs. them" paradigm eons ago. I love the term "cosmopolitan whiteness", which Saraswati describes as desire for the "whiteness" that represents entitlement, privilege, and class. "Whiteness is a virtual quality, neither real nor unreal." Cosmopolitan whiteness really encapsulates the cultural hegemony of the Western norms, fueled by capitalism. Even I, admittedly, am subject to being a "cosmopolitan white": I was wondering while reading about how I sought to be darker, through sun exposure, rather than lighter-skinned when I was younger. Saraswati addresses this as an element of cosmopolitan whiteness, in that it portrays desirable skin tone as something achievable (with skin products). Countering the white beauty ideal further exotifies darker skin. Lastly, Saraswati portrays malu (which generally refers to the feeling of shame, but, as Saraswati notes, the true meaning is difficult to translate) as a tool that is used to make people feel bad for having darker skin. In my experience, malu is definitely a commonly used tool Indonesia, but only because it is, for some reason, so effective. Even when I anticipate the weight-related comments when I go back to Jakarta, I still feel that heavy malu that makes me want to hide rather than motivates me to lose weight. But of course, those are entirely separate - weight can be lost; skin color and its associated affects are much harder to change.

  10. 4 out of 5

    S Azizah

    Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional.   “Fir, kamu cantik deh kalau putih” dan rentetan turunannya. Tumbuh besar dengan entah-pujian-entah-hinaan seperti itu, membuat saya bertanya-tanya sepanjang hidup saya. Mengapa saya baru “cantik” kalau putih? Apakah kulit saya yang kurang putih menjadikan saya jelek? Pertanyaan-pertanyaan itu memupuk di sudut benak saya, menumbuhkan rasa malu, minder, bahkan pernah mengutuk warna kulit saya sendiri karena bukan putih! Warna kulit Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional.   “Fir, kamu cantik deh kalau putih” dan rentetan turunannya. Tumbuh besar dengan entah-pujian-entah-hinaan seperti itu, membuat saya bertanya-tanya sepanjang hidup saya. Mengapa saya baru “cantik” kalau putih? Apakah kulit saya yang kurang putih menjadikan saya jelek? Pertanyaan-pertanyaan itu memupuk di sudut benak saya, menumbuhkan rasa malu, minder, bahkan pernah mengutuk warna kulit saya sendiri karena bukan putih! Warna kulit saya adalah alasan mengapa saya jelek.   Narasi itu mengundang tanda tanya yang membuat saya begitu terganggu selama saya tumbuh dewasa. Lalu judul buku ini terpintas di layar gawai saya, langsung saya memburunya! Ya, buku ini out of stock bahkan dari penerbitnya. Frustasi, saya mengirimkan surel kepada penulisnya—Prof. L. Ayu Saraswati, yang sekaligus pengajar bidang perempuan di University of Hawai’i. Entah apa gerangan yang sedang dilakukannya, mungkin di sela waktu istirahat mengajarnya beliau menyempatkan membalas surel saya. Saya minta buku ini dipublish ulang, begitu singkatnya. Dan setelah lama penantian (dari 31 Januari) buku ini di terbitkan ulang pada 5 Agustus 2019. Dan demi waktu menunggu yang sulit, saya begitu beruntung bisa membaca buku ini.   Dalam buku ini, saya memahami seluk-beluk warna kulit dan kecantikan dengan bertamasya dalam sejarah Indonesia. Ternyata bukan hanya warisan kolonial persepsi “putih” adalah cantik, jauh sebelum itu, dari abad ke-9 puisi epos Ramayana sudah mengagumi wanita yang putih. Sejarah kecantikan sudah disusun dari pra-kolonial, transisi dari kolonial Belanda ke Jepang, pengaruh budaya Amerika, sampai ke kosmopolitan. Kegandrungan akan warna kulit Putih bukan sekadar pengaruh ras Kaukasia, namun juga terkomposisi dari unsur politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Bahkan ada kaitannya kecondongan preferensi terhadap warna putih dan kecantikan dengan tumbangnya komunisme di Indonesia. Kurang gila apa, coba! Ternyata begitu ruwet sejarah kecantikan ideal yang membuat saya sakit minder menahun karena menanggung beban konstruksi sosial: cantik itu putih. Saya tidak bisa menghindar dan terpaksa mengakui bahwa saya (tanpa sadar) turut menjadi tubuh feminin yang patuh terhadap regulasi atas tubuh saya yang disusun dari gambaran “ideal” perempuan, toh, saya “merawat diri” yang secara ekonomis ujung-ujungnya menguntungkan pebisnis, alih-alih diri saya. Putih, tren kecantikan yang tetap bertahan hingga kini, terus-menerus beradaptasi, bermutasi, dan mengooptasi bentuk-bentuk kecantikan ideal untuk mempertahankan supremasinya. Maka jika kamu merasa inferior dan minder karena warna kulit mu, maka kamu harus mulai mempertanyakan: Kenapa saya harus minder? Di ujung pertanyaan, kamu akan bertemu kapitalisme dan supremasi ras kulit putih, selanjutnya kamu bisa menentukan standing position kamu. Menurut saya, wanita tidak perlu merasa malu, minder, dan mengutuk warna kulitnya, karena wanita adalah cantik. Cantik dengan segala kompleksitas yang membentuknya.   Buku ini ciamik, sangat-sangat wajib dibaca, khususnya perempuan yang merasa seperti di paragraf pertama. Ulasan buku ini saya dedikasikan kepada Prof. L. Ayu Saraswati selaku penulis yang mau mendengarkan dan meredakan rasa frustrasi saya. Terima kasih.

  11. 4 out of 5

    Spica

    Dari kecil, saya sering bertanya-tanya, "Kenapa, sih, orang yang kulitnya gelap cenderung lebih sering dikucilkan daripada mereka yang berkulit terang (termasuk saya)?" Bahkan ketika pujian-pujian datang ke saya karena warna kulit saya yang jadi idaman banyak orang di Indonesia, saya tidak tersanjung. Yang ada di benak saya justru, "bagaimana kalau saya lahir lebih gelap dari saya yang sekarang?" Buku ini cukup membuat saya kenyang dari pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Oleh Kak Ayu Saraswati Dari kecil, saya sering bertanya-tanya, "Kenapa, sih, orang yang kulitnya gelap cenderung lebih sering dikucilkan daripada mereka yang berkulit terang (termasuk saya)?" Bahkan ketika pujian-pujian datang ke saya karena warna kulit saya yang jadi idaman banyak orang di Indonesia, saya tidak tersanjung. Yang ada di benak saya justru, "bagaimana kalau saya lahir lebih gelap dari saya yang sekarang?" Buku ini cukup membuat saya kenyang dari pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Oleh Kak Ayu Saraswati jawaban dari pertanyaan saya dituturkan secara rinci melintasi waktu dari zaman pra-kolonial sampai era modern sekarang. Walau awalnya saya agak kesusahan membaca buku ini karena taraf diksi yang digunakan agak 'wah' dan banyak yang artinya tidak saya pahami, lama-kelamaan ternyata buku ini enggak sesusah itu! Justru asyik banget. Ada banyak hal-hal kecil yang diselipkan di lintas masa yang ditulis di buku ini dan itu yang bikin saya, "oh iya juga ya ..." Buku ini hadiah ulang tahun dari pacar saya September kemarin, hehe. Bukan cuma bacaan yang amat bagus. Dari buku ini juga saya paham bahwa warna kulit tidak seharusnya jadi patokan manusia untuk memandang manusia yang lain.

  12. 4 out of 5

    Iis

    Buku yang menambah wawasan dengan merunut bagaimana kulit putih menjadi konstruksi kecantikan dari segi historis. Di mulai dari zaman prakolonial, kemudian menuju ke masa kolonialisme, dan pasca kolonial hingga mencetuskan frasa 'putih kosmopolitan'. Bagaimana putih diartikulasikan melalui beberapa masa, bagaimana citra putih menjadi bahan bakar iklan-iklan dan majalah perempuan, bagaimana standar cantik ini menciptakan produk pemutih kulit yang dibuat industri kosmetik global. Dengan memakai b Buku yang menambah wawasan dengan merunut bagaimana kulit putih menjadi konstruksi kecantikan dari segi historis. Di mulai dari zaman prakolonial, kemudian menuju ke masa kolonialisme, dan pasca kolonial hingga mencetuskan frasa 'putih kosmopolitan'. Bagaimana putih diartikulasikan melalui beberapa masa, bagaimana citra putih menjadi bahan bakar iklan-iklan dan majalah perempuan, bagaimana standar cantik ini menciptakan produk pemutih kulit yang dibuat industri kosmetik global. Dengan memakai banyak sekali sumber, Mbak Ayu menjelaskan secara detail dan saintifik. Tentunya banyak kata-kata yang masih terdengar asing sehingga saya harus membuka internet untuk memahaminya, tapi secara keseluruhan poin yang ingin dijelaskan dan dianalisis berhasil tersampaikan.

  13. 4 out of 5

    Qinthara

    Membaca buku ini seperti menembus ruang dan waktu. Dengan banyaknya data yang ditampilkan, membuktikan bahwa standar kecantikan kulit putih telah mengakar cukup kuat dalam masyarakat Indonesia. Berawal dari kisah Ramayana dan Sita, iklan-iklan yang muncul pada masa kolonial Belanda dan Jepang, hingga pop culture pada masa sekarang ini. Iklan-iklan yang bermunculan menyiratkan pesan bahwa kulit putih dianggap lebih menarik, lebih disenangi, dan seakan-akan memiliki superioritas dalam konstruksi ma Membaca buku ini seperti menembus ruang dan waktu. Dengan banyaknya data yang ditampilkan, membuktikan bahwa standar kecantikan kulit putih telah mengakar cukup kuat dalam masyarakat Indonesia. Berawal dari kisah Ramayana dan Sita, iklan-iklan yang muncul pada masa kolonial Belanda dan Jepang, hingga pop culture pada masa sekarang ini. Iklan-iklan yang bermunculan menyiratkan pesan bahwa kulit putih dianggap lebih menarik, lebih disenangi, dan seakan-akan memiliki superioritas dalam konstruksi masyarakat. Buku ini layak dibaca bagi individu yang tertarik pada sejarah berkaitan dengan isu gender dan ras.

  14. 4 out of 5

    Sekaringtias

    Let me begin with, this book is really academical, despite the somewhat 'pop' cover. As to be expected from its title, the book really digs deep and cross-reference many, many sources to explain how beauty is defined and how light skin is perceived to be the ultimate beauty. It is really interesting, solid, and Saraswati's passion in this field is shown so bright by how vast the angle she puts into this research but also with its depth. The three-star is only because I'm not used to such form of Let me begin with, this book is really academical, despite the somewhat 'pop' cover. As to be expected from its title, the book really digs deep and cross-reference many, many sources to explain how beauty is defined and how light skin is perceived to be the ultimate beauty. It is really interesting, solid, and Saraswati's passion in this field is shown so bright by how vast the angle she puts into this research but also with its depth. The three-star is only because I'm not used to such form of literature, but otherwise, this work is really important.

  15. 5 out of 5

    Ainun Mutmainnah

    saya harus mengakui pada akhirnya kebanyakan perempuan Indonesia menginginkan kulit putih--hal ini tidak lepas dari sejarah. menjadi putih pada akhirnya adalah sebuah ritual yg tidak ada habisnya, maka jangan heran krim pemutih di negeri ini selali laris manis. disajikan dengan apik, mudah dimengerti, dan bisa menjadi bahan pertimbangan--setidaknya untuk saya--untuk apa menjadi putih? marjin kiri juga oke oke nih bukunya. salut.

  16. 5 out of 5

    Winnie Sutanto

    langsung saya kasih rating lima! Alasannya simpel, agak susah mendapatkan buku yang membahas secara matang dan jelas tentang konstruksi kecantikan transnasional Indonesia. Tapi, buku ini mampu mengupas sejarah kecantikan di Indonesia (diperkuat dengan data di beberapa kota besar). Buku ini memang layak diapresiasi demikian. Semoga menjadi gebrakan baru terkait obsesi orang-orang Indonesia untuk menjadi "putih". Salut mbak Ayu Sarasvati!

  17. 5 out of 5

    Arif Abdurahman

    Kenapa kudu putih? Jawaban praktisnya mungkin sering kita dengar, dan memang tepat: korban iklan. Tapi jika ingin lebih gamblang, Buku ini jawabannya. Menjelaskan dari kontruksi kecantikan putih sejak masa prakolonial sampai hari ini, dengan studi sejarah dan beragam kajian gender, ras, sampai budaya populer.

  18. 5 out of 5

    Samuel

    A book that managed to provide the foundations to understand the affection-transnational framework behind the perception of being “white” in Indonesia. A must read for those who wanted to expand the various crossroads that define race in this country. There’s more to us than just what the state defines in cliched National Unity rhetorics

  19. 5 out of 5

    Martinus Danang

    Buku ini secara gamblang menjelaskan bahwa warna kulit putih sebagai standar kecantikan adalah bentuk dari rasialisme di mana putih selalu identik sebagai baik dan gelap/hitam selalu identik sebagai buruk

  20. 4 out of 5

    Natrila Femi

    Walau kuakui rada njlimet yang baca karena penuh dengan referensi ke jurnal-jurnal, bahasannya seger banget dan menarik melihat bahwa norma kecantikan putih bukan hanya produk dari kolonialisasi zaman Belanda dan Jepang. Mashook dalam buku favoritku sepanjang 2018 ini!

  21. 5 out of 5

    Vla Sibarani

    Ambisius dalam cakupan sejarahnya dan inovatif dalam pendekatan kajian budaya feminisnya terhadap studi ras.

  22. 4 out of 5

    Noyara

    Tentang kecantikan dan standar "putih" yang mengakar (tidak hanya) di Indonesia.

  23. 5 out of 5

    M. Tiyasaa

    More than just a knowledge how this all whiteness got into the Indonesian culture. Many interesting background stories with some data to understand better this reality.

  24. 4 out of 5

    Qinthara

    Menyadarkan kita bahwa standar kecantikan berkulit putih bukanlah patokan umum dan mutlak untuk terlihat cantik

  25. 4 out of 5

    Grisselda

    Sejak kapan putih jadi warna yang diidolakan dan dilekatkan dengan simbol kecantikan?⁣ ⁣ Di buku ini penulis mengajak pembacanya menelusuri beberapa periode waktu di Indonesia.⁣ ⁣ Sebelum dijajah, Indonesia ternyata sudah punya kecenderungan menyukai warna kulit terang. Penulis menyoroti puisi epos Ramayana yang diadaptasi dari India. Contohnya, Sita berkulit terang, Prabu Rahwana yang jahat berkulit gelap. Sadar tak sadar, terang selalu diasosiasikan dengan yang positif, sedangkan gelap yang negati Sejak kapan putih jadi warna yang diidolakan dan dilekatkan dengan simbol kecantikan?⁣ ⁣ Di buku ini penulis mengajak pembacanya menelusuri beberapa periode waktu di Indonesia.⁣ ⁣ Sebelum dijajah, Indonesia ternyata sudah punya kecenderungan menyukai warna kulit terang. Penulis menyoroti puisi epos Ramayana yang diadaptasi dari India. Contohnya, Sita berkulit terang, Prabu Rahwana yang jahat berkulit gelap. Sadar tak sadar, terang selalu diasosiasikan dengan yang positif, sedangkan gelap yang negatif. ⁣ Preferensi warna kulit terang diubah dan baru digabungkan dengan ras saat Indonesia dijajah. Ada putih Belanda, dan ada putih Jepang. Wanita-wanita Kaukasia jadi contoh cantik yang ideal, usaha Jepang mengubah hierarki ras yang ada di Indonesia, sampai kebutuhan untuk mendefinisikan "cantik putih Indonesia" yang saat dijalani malah kontradiktif. Buku ini makin menarik karena penulis memperlihatkan tipe iklan produk kecantikan di Indonesia dari puluhan tahun yang lalu hingga pasca orba. Pemilihan model, copywriting, sampai lokasi pada iklan. Isi tulisan dan iklan majalah di 2006-2008 dikritisi penulis, dan ia meminjam sebutan "gaya hidup merdeka yg semu" untuk mewakili kondisi ini. ⁣ Di bab lain, penulis mengulik rasa malu dengan warna kulit dari wawancara dan pengakuan perempuan-perempuan yang menggunakan produk pemutih. Di sini penulis memperlihatkan beberapa penyebab, alasan, sekaligus menyampaikan beberapa kesimpulan ⁣ Membaca Putih, saya seperti diajak naik mesin waktu dan melihat beragam situasi dari berbagai era di Indonesia. Idealisasi warna kulit itu dikonstruksi, diwariskan turun-temurun melintasi beberapa generasi, dan mau atau tidaknya melanggengkan warisan itu adalah opsi. ⁣ Buku bagus terbitan Marjin Kiri yang layak sekali dibaca 👏🏻⁣

  26. 5 out of 5

    Meutia Faradilla

    I read the Indonesian version of this book (published by Marjin Kiri and its translation is excellent) and I will recommend women to read this book. As a feminist, this book helped me to look clearly on the white obsession in Indonesia. Some people will blame it to the capitalist agenda, colonialist agenda/effect, but this book explains that Indonesian's obsession on white/fair skin go way long before that. The historical aspects the author discussed in this book gave clear insight about it. One I read the Indonesian version of this book (published by Marjin Kiri and its translation is excellent) and I will recommend women to read this book. As a feminist, this book helped me to look clearly on the white obsession in Indonesia. Some people will blame it to the capitalist agenda, colonialist agenda/effect, but this book explains that Indonesian's obsession on white/fair skin go way long before that. The historical aspects the author discussed in this book gave clear insight about it. One of the interesting perspective she offered was how "affect" (?) or emotion affecting Indonesian women's concept on fair skin. It's a brilliant book to be read to complete our discourse on cosmetics, skin, and feminism.

  27. 5 out of 5

    Agung

    Ketika saya melihat judulnya, saya langsung tertarik karena inilah buku yang sejak dulu saya cari-cari. Mengapa saya cari? Karena sejak kecil tanpa disadari, saya pun menganggap bahwa kulit putih adalah warna yang bagus, indah, dan memukau. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan semakin tua umur saya, saya jadi bertanya-tanya kenapa kulit putih itu lebih superior dibanding warna kulit sawo matang dan warna kulit hitam. Dan, di buku inilah penelitian tersebut dijelaskan secara cukup baik dan berda Ketika saya melihat judulnya, saya langsung tertarik karena inilah buku yang sejak dulu saya cari-cari. Mengapa saya cari? Karena sejak kecil tanpa disadari, saya pun menganggap bahwa kulit putih adalah warna yang bagus, indah, dan memukau. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan semakin tua umur saya, saya jadi bertanya-tanya kenapa kulit putih itu lebih superior dibanding warna kulit sawo matang dan warna kulit hitam. Dan, di buku inilah penelitian tersebut dijelaskan secara cukup baik dan berdasarkan waktu yang terjadi.

  28. 5 out of 5

    Comeoutandplay_

  29. 5 out of 5

    Aya

  30. 4 out of 5

    Artika Sari

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.