web site hit counter Travellous: Lost in Europe, Found A Love - Ebooks PDF Online
Hot Best Seller

Travellous: Lost in Europe, Found A Love

Availability: Ready to download

Mimpi jika selalu dijaga dan diusahakan, pasti akan terwujud! Demikian pula mimpi penulis, seorang anak muda yang tak punya, asal Banjarmasin. Dari kecil, ia ingin menjejakkan kaki di Eropa. Semua teman sekolah dan keluarga mentertawakan impiannya itu. Dianggap terlalu muluk dan tidak akan terwujud. Mimpi itu selalu ia simpan. Sampai saat kuliah, ada jalan mewujudkannya, me Mimpi jika selalu dijaga dan diusahakan, pasti akan terwujud! Demikian pula mimpi penulis, seorang anak muda yang tak punya, asal Banjarmasin. Dari kecil, ia ingin menjejakkan kaki di Eropa. Semua teman sekolah dan keluarga mentertawakan impiannya itu. Dianggap terlalu muluk dan tidak akan terwujud. Mimpi itu selalu ia simpan. Sampai saat kuliah, ada jalan mewujudkannya, melalui beasiswa belajar film. Namun, kendala datang. Beasiswa itu hanya meliputi biaya tinggal dan kuliah. Pulang-pergi tidak! Anak muda tak punya itu bingung, memutar otak, dan akhirnya nekat. Perjuangannya penuh hambatan, kemujuran, kesedihan, dan kadang kebahagiaan. Sampai akhirnya Eropa ada di tangannya. Pun kisah-kisah cinta berhasil ia torehkan. Seru, menyenangkan, penuh pengetahuan, dan racun semangat, membuat buku ini harus dibaca semua anak-muda yang ingin mewujudkan mimpi. Travellous! "Membaca buku Travellous, saya tertawa terbahak-bahak. Teknik menulis catatan perjalanan dengan gaya fiksi populer membuat saya betah membacanya. Asyik!" Gol A Gong, travel writer


Compare

Mimpi jika selalu dijaga dan diusahakan, pasti akan terwujud! Demikian pula mimpi penulis, seorang anak muda yang tak punya, asal Banjarmasin. Dari kecil, ia ingin menjejakkan kaki di Eropa. Semua teman sekolah dan keluarga mentertawakan impiannya itu. Dianggap terlalu muluk dan tidak akan terwujud. Mimpi itu selalu ia simpan. Sampai saat kuliah, ada jalan mewujudkannya, me Mimpi jika selalu dijaga dan diusahakan, pasti akan terwujud! Demikian pula mimpi penulis, seorang anak muda yang tak punya, asal Banjarmasin. Dari kecil, ia ingin menjejakkan kaki di Eropa. Semua teman sekolah dan keluarga mentertawakan impiannya itu. Dianggap terlalu muluk dan tidak akan terwujud. Mimpi itu selalu ia simpan. Sampai saat kuliah, ada jalan mewujudkannya, melalui beasiswa belajar film. Namun, kendala datang. Beasiswa itu hanya meliputi biaya tinggal dan kuliah. Pulang-pergi tidak! Anak muda tak punya itu bingung, memutar otak, dan akhirnya nekat. Perjuangannya penuh hambatan, kemujuran, kesedihan, dan kadang kebahagiaan. Sampai akhirnya Eropa ada di tangannya. Pun kisah-kisah cinta berhasil ia torehkan. Seru, menyenangkan, penuh pengetahuan, dan racun semangat, membuat buku ini harus dibaca semua anak-muda yang ingin mewujudkan mimpi. Travellous! "Membaca buku Travellous, saya tertawa terbahak-bahak. Teknik menulis catatan perjalanan dengan gaya fiksi populer membuat saya betah membacanya. Asyik!" Gol A Gong, travel writer

30 review for Travellous: Lost in Europe, Found A Love

  1. 5 out of 5

    Nike Andaru

    209 - 2019 Beberapa waktu lalu saya liat IGs-nya Yayan soal dia lagi baca ulang buku ini. Saya jadi inget kalo punya buku ini dan sudah tertimbun lama banget, jadi ya diambil deh buat dibaca. Cerita traveling ala Andrei ini sederhana tapi menarik dibaca. Andrei mampu mengemas cerita perjalanan dia ke Eropa seperti cerita novel tapi juga dengan gaya khas blogger. Ini memang bukan cerita perjalanan biasa, ada kocaknya, ada cerita cintanya juga.

  2. 5 out of 5

    Erma Septiana

    Kereeenn.. Gak tau kenapa, tapi semangat backpacker di buku ini, kaya merembet ke saya. Gak cuma memberikan inspirasi, tapi juga hiburan lewat candaan atau gombalan yg bisa bangeett. wkwkwk.. Bumbu persahabatan dan percintaan juga menjadikan buku ini lebih berwarna.

  3. 5 out of 5

    Andrei Budiman

    Tulisan di bawah ini bukan review saya, hanya review dari pembaca Travellous yang mereview dengan baiknya karya saya: Setengah subuh, setengah buku, awalnya tak terpikir untuk membaca buku sejenis ini, sampai saya bertamu ke rumah artdeco di krasak. dan bertemulah dengan Andrei...yang kabarnya Budiman dan sudah hampir jadi "highlander kampus", mendekati abadi, hahaha bermalam di rumah nyaman ini, dengan suasana kampung halaman yang membuat setiap mahasiswa rantau akan diajak bernostalgia, dan nost Tulisan di bawah ini bukan review saya, hanya review dari pembaca Travellous yang mereview dengan baiknya karya saya: Setengah subuh, setengah buku, awalnya tak terpikir untuk membaca buku sejenis ini, sampai saya bertamu ke rumah artdeco di krasak. dan bertemulah dengan Andrei...yang kabarnya Budiman dan sudah hampir jadi "highlander kampus", mendekati abadi, hahaha bermalam di rumah nyaman ini, dengan suasana kampung halaman yang membuat setiap mahasiswa rantau akan diajak bernostalgia, dan nostalgialah yang dibawa Travellous, yang membuat saya mesti tak tidur lagi malam ini. dan sesudah setengah buku, merah marun lantai marmer buat saya kangen menyesap rokok gendut montok yang udah tandas dari bungkusnya, terbayang bagaimana si Rei yang tak bisa iseng seenaknya merokok di sana, di Eropa. saya melangkah meninggalkan rumah, menuju jalan sepi, kabarnya trotoar di jogja suka begadang. dan saya tau di belokan ada angkringan. namun malam ini tampaknya angkringan malas kesiangan, di sana trotoar cuman sendiri, tidur diselimuti bayangan pohon. Mungkin begini rasanya tak ketemu nasi berminggu-minggu, si Rei cuman makan roti kering, cereal dan produk gandum lainnya yang kita kenali sebagai cemilan. "Di sini ku masukakan pandiran Banjar jua" katanya, sebelum menyerahkan draft cetakan tak bersampul dengan penjepit karatan. aha..saya selalu punya motivasi lebih untuk membaca saudara sepulau. teringat ketika teman menyadarkan bahwa saya membaca Korrie Layun Rampan, bukan karena dia wartawan yang sastrawan, tapi dia orang Kalimantan. dari hampir setengah Travellous, saya menganggap buku ini harus dihabiskan sekali teguk, habiskan dengan cepat, selagi busanya belum mencair. maka saya harus mencari segelas kopi dan rokok, biar mata ngantuk ini tak terlalu sentimentil dihasut pesona Jules dan Ling. dengan ini marilah ikuti saya ke Stasiun Lempuyangan, di sana pasti ada yang masih menikmati malam. Saya menyusuri rel kosong yang menggigil sunyi, menanti kereta pagi yang akan menggeseknya hangat. tentunya bukan kereta secepat peluru yang ditemui Rei di sana, tentunya bukan stasiun dengan harga air mineral selangit, dengan kantin yang pelit ngasih air panas. di sini, bangku stasiun adalah hostel para penunggu kereta ajaib-- kereta yang tak penah penuh, walau diisi dua kali kapasitasnya. Stasiun tua ini sudah berubah sanasini, tempat parkir dulu jadi deretan warung, ada lampu neon penanda, terbaca "lempuyangan", yang menjadikan stasiun ini mirip kafe malam, dengan norah jones di dalamnya, menyajikan pie blueberry. seperti di film Wong Kar Way itu, salah satu sutradara favorit Rei. dan urat filmnya lah yang membawa Rei ke kontinen asal para penjelajah hingga penjajah, lalu tulisannya mengalir seperti scene-scene stop motion, penuh cuplikan padat; menziarahi eiffel baginya seperti bermalam di mina; lembah Lucerne tak lebih indah dari lelap di pangkuan Jules; ban sepeda bocor adalah keramahan Anne; belajar adalah keceriaan yang ditularkan Ling; indahnya pedesaan ada di jempol para hicthhiker. saya akhirnya menemukan tujuan, warung yang masih buka, di trotoar depan stasiun yang masih belum kering, akhir-akhir ini jogja senang mandi. mungkin kota hujan tak lagi di sana, di tempat Rei pernah menambat sauh, begitu lama, pada yang ditulisnya dengan F yang kapital. setelah membeli bekal untuk menenggak sisa Travellous, saya menyusuri jalan sepanjang lempuyangan, berderet puluhan becak di sana, lelap bersama sang tuan yang meringkuk di perutnya, seperti kangguru dan anaknya. terbayang mereka lelah bekerja seharian, pasti hasilnya tak pernah mendekati uang yang di dapatkan Rei saat kerja membolongi kertas untuk menyambung jalan, di Belanda. dan enaknya, tak ada pekerjaan yang inferior di sana, kata Rei, mungkin itulah impian benua biru yang dikejar banyak orang. menuju jalan pulang, ada beberapa rel mati dan gerbong yang tak terpakai, detail yang begitu sendu saat malam setengah subuh seperti ini, suasana yang sama saat menikmati hubungan Rei dengan sahabat lamanya, yang mendapatkan hadiah terakhir dari ibu di Indonesia: sekantung beras. Atau Ali yang bersepeda meninggalkan Iran, yang sudah kenyang diajar jalanan, detail ini bukan ornamen, kecil memang, namun kadang tak kalah indah dari bangunan besar yang selalu dipindahkan Jules ke gambar-gambarnya. dan saat hari terang Travellous sudah tertenggak habis, tak perlu dipikirkan, Rei mengajak kita santai, menikmati bukunya dengan pengalaman yang kita bawa masing-masing, karena perjalanan fisiknya hanya pengantar yang membawa pada dua kata yang jadi tagline blognya: Senyum Dunia. Baihaqi (Fikom Unpad, Bandung)

  4. 5 out of 5

    Lalu Fatah

    Saya tidak menyesal membaca buku ini. Travellous bukan sekadar cerita perjalanan anak muda asal Banjarmasin 'menaklukkan' benua biru, Eropa. Spirit buku ini terletak pada perjuangan meraih impian. Impian yang diremehkan oleh orang-orang sekitarnya. Namun, berbekal nyali yang tak pernah padam, ia akhirnya bisa menggapainya. Adalah Andrei Budiman. Keinginannya mencapai Eropa besar sekali. Jelas, sebagai mahasiswa 'kere', ia takkan sanggup kalau melakukan perjalanan ala turis. Sebagai pencinta ilmu f Saya tidak menyesal membaca buku ini. Travellous bukan sekadar cerita perjalanan anak muda asal Banjarmasin 'menaklukkan' benua biru, Eropa. Spirit buku ini terletak pada perjuangan meraih impian. Impian yang diremehkan oleh orang-orang sekitarnya. Namun, berbekal nyali yang tak pernah padam, ia akhirnya bisa menggapainya. Adalah Andrei Budiman. Keinginannya mencapai Eropa besar sekali. Jelas, sebagai mahasiswa 'kere', ia takkan sanggup kalau melakukan perjalanan ala turis. Sebagai pencinta ilmu film, salah satu peluang baginya adalah pergi ke Eropa melalui beasiswa. Ia coba-coba melamar dan diterima ikut workshop perfilman di Universite Lumiere Lyon 2. Biaya pendidikan dan akomodasi dibiayai, tapi tidak dengan transportasi ke sana. Bingung. Tapi, Andrei melakukan hal yang cerdas. Berangkat ke Eropa dari negeri jiran. Eh, ternyata sama saja harga tiketnya. Tapi, berkat kepiawaiannya dalam hubungan interpersonal, ia pun bisa mendapatkan tiket PP Malaysia - Frankfurt hanya 400 dollar AS. Setengah dari harga normal! Kisah demi kisah pun bergulir. Antara euforia, khawatir, dan perasaan campur aduk lainnya. Namun, diteguhkan oleh Q.S. Al-Hujurat ayat 13, ia pun menjalani semuanya dengan penuh kehausan petualangan khas anak muda. Nekat, tapi ia diberondong oleh pengalaman demi pengalaman yang sungguh bikin saya iri. Ada adrenalin yang terpacu selama membaca buku ini. Bagaimana Andrei, misalnya ia memulai hari pertamanya kerja demi mendapatkan biaya hidup sehari-hari. Ia kudu naik sepeda dan telat! Di perusahaan pun ia sempat-sempatnya diledekin oleh orang Belanda. Juga, bagaimana ia sempat muntah-muntah karena makan roti, keju, roti, keju. Perutnya 'masih' Indonesia sekali. Saya pun tak bisa menahan tawa saat ia memperkenalkan diri di depan mahasiswa dari berbagai negara dan dijuluki Miss Indonesia. Hah? Miss Indonesia? Ia malu setengah mati. Tapi, itu awal yang bagus. Karena ia bisa tenar. Hahaha... Coba deh baca di halaman 75. Dari kehidupan di kampus inilah, ia memulai sebagian besar kisah dalam buku ini. Cerita tentang persaingan di kelas, terutama antara The Big Four; kekonyolan yang ia bikin; dan yang paling seru tentu saja adalah kisah romansa Andrei Budiman dengan gadis-gadis Eropa dan Asia. Andrei yang terlibat hubungan bitter sweet dengan Anne, Ling, Jules, juga gadis kota hujan berinisial F, mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Kisah tarik-ulur cinta dengan lika-likunya. Yang membuat spesial, tentu saja, karena berbumbu traveling. Dengan gadis yang ia taksir, Jules, misalnya, Andrei sempat melakukan hitch-hiking bareng dari Swiss menuju Jerman. Beragam orang mereka temui sepanjang hitch-hiking, mulai dari supir yang melakukan pelecehan seksual - di mata Andrei - terhadap Jules saat tertidur, bertemu pesepeda yang memiliki kisah menakjubkan yang menjamu mereka makan enak padahal ia sendiri seorang musafir, bertemu supir konyol yang doyan mabuk selama nyetir, juga ditampung oleh keluarga di sebuah pedesaan gara-gara Jules sakit. Bagaimana kisahnya dengan Ling dan gadis kota hujan berinisial F? Dari sekian gadis yang melingkupi hidupnya yang diceritakan dalam buku ini, pada siapa akhirnya Andrei menjatuhkan pilihan akhir? Saya dibuat terharu, tertawa, sedih, senyum, kecewa, geram, marah, kagum, deg-degan, salut, dan ragam rasa lainnya selama membaca buku ini. Tuturan penulisnya amat lancar. Saya sempat berpikir begini, "Penulisnya beruntung sekali dianugerahi pengalaman mengasyikkan begini sekaligus bakat menulis yang bagus." Saya amat setuju dengan endorsement Gol A Gong: "Membaca buku Travellous, saya tertawa terbahak-bahak. Teknik menulis catatan perjalanan dengan gaya fiksi populer membuat saya betah membacanya. Asyik!" Travellous adalah sebuah buku reinkarnasi. Saya mengatakan demikian karena edisi yang saya baca ini pernah diterbitkan secara indie oleh Andrei. Sambutan yang pedih pada awalnya hingga meriah pada ujungnya, membuat buku ini dilirik oleh B-First, lini Bentang Pustaka. Kisah yang menggugah tentang perjalanan buku ini, bisa Anda baca selengkapnya di https://www.facebook.com/note.php?not.... Travellous. Lost in Europe, found a love!!!

  5. 4 out of 5

    ayanapunya

    Bagi teman-temannya, Andrei Budiman adalah sosok pemimpi, pengkhayal tingkat tinggi. Begitu tinggi mimpinya hingga kerap menjadi bahan becandaan kawan-kawannya. Bukan hal aneh, mengingat mimpinya mungkin bukanlah mimpi biasa bagi orang Banjar kala itu, yakni menginjakkan kaki di Eropa. Lihat saja salah satu testimoni teman SMA-nya: "Ndrei, tahu diri dong! Utang makan bakso aja belum lu bayar, apalagi pergi ke Eropa!" Namun bukan Andrei namanya jika pantang menyerah.Dengan penuh dengan perjalanan b Bagi teman-temannya, Andrei Budiman adalah sosok pemimpi, pengkhayal tingkat tinggi. Begitu tinggi mimpinya hingga kerap menjadi bahan becandaan kawan-kawannya. Bukan hal aneh, mengingat mimpinya mungkin bukanlah mimpi biasa bagi orang Banjar kala itu, yakni menginjakkan kaki di Eropa. Lihat saja salah satu testimoni teman SMA-nya: "Ndrei, tahu diri dong! Utang makan bakso aja belum lu bayar, apalagi pergi ke Eropa!" Namun bukan Andrei namanya jika pantang menyerah.Dengan penuh dengan perjalanan berliku, Andrei pun berhasil mewujudkan mimpinya. Perjalanan itu dimulai ketika Andrei mendapat tawaran dari seorang backpacker untuk melakukan perjalanan ke Eropa. Andrei tentu saja dengan bersemangat menyetujui tawaran tersebut. Sayangnya, hingga hari yang dimaksudkan tiba, kondisi keuangannya belum mencukupi untuk bisa berangkat. Akhirnya dengan berat hari Andrei harus rela ditinggal rekannya tersebut. Kesempatan rupanya belum benar-benar pergi dari Andrei. Tanpa sengaja ia melihat pengumuman tentang adanya kesempatan untuk mengikuti workshop di sebuah universitas di Perancis, Universite Lumiere Lyon 2. Peserta yang lulus seleksi akan mendapat workshop plus akomodasi gratis. Iseng-iseng Andrei mengirimkan lamaran, dan ternyata ia lulus. Meski sudah dinyatakan lulus, Andrei menemukan masalah baru. Harga tiket ke Perancis ternyata sangat mahal. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat melalui jalur Singapura. Dari Singapura inilah kisah perjalanan Andrei dimulai. Mulai dari kekonyolan yang tak sengaja ia lakukan saat berada di Singapura, perkenalan dengan orang-orang baru, pengalaman pertamanya bekerja di Eropa, tertidur di depan Menara Eiffel, hingga melakukan perjalanan bersama gadis yang disukainya. Membaca lembar demi lembar buku ini tak ubahnya membaca catatan kehidupan seorang Andrei Budiman. Wajar saja, mengingat buku ini merupakan kumpulan jurnal di blog miliknya. Cerita mengalir lancar, namun terasa kurang lengkap karena tidak dijelaskan tahun berapa perjalanan ini berlangsung. Tapi hal ini tidak mengurangi kenikmatan dalan membaca. Yang cukup menarik dari buku ini, -selain tentang pengalaman Andrei menimba ilmu di Eropa tentunya- adalah kehadiran gadis-gadis istimewa di hati Andrei. Ada Anne, seorang gadis yang menolongnya saat kebocoran ban di Belanda. Ada Jules, yang merupakan gadis yang langsung merebut perhatian Andrei ketika pertama kali ia melihatnya. Ada juga Ling, gadis yang secara konsisten menjadi rekan duduknya saat mengikuti pelajaran, bahkan sampai terlibat skandal denganya. Dan tentu saja F, gadis kota hujan yang selalu berada di hati Andrei. Kisah-kisah Andrei bersama gadis-gadis ini menjadi bumbu tersendiri dalam buku ini. Pada siapakah sebenarnya hati Andrei berlabuh, menjadi pertanyaan besar saya sesudah membaca buku ini. Salut pada Andrei yang telah berhasil mewujudkan salah satu mimpinya. Lebihnya lagi, saya bangga karena Andrei menambah jajaran Urang Banjar yang sukses dalam bidang tulis menulis.

  6. 4 out of 5

    Frisca Alexandra

    Saya mendapatkan buku ini sebagai hadiah dari salah seorang kawan pada ulang tahun saya ditahun 2014 lalu. ia mengatakan bahwa kisah Andrei akan sangat menginspirasi orang-orang seperti saya yang memiliki impian yang begitu besar namun terlalu ragu apakah impian tersebut dapat di wujudkan atau tidak. Awalnya saya berpikir bahwa buku ini adalah buku tentang panduan travelling atau buku yang mengisahkan pengalaman-pengalamn lucu selama travelling, ternyata saya salah. Buku ini tentang mimpi, tentang Saya mendapatkan buku ini sebagai hadiah dari salah seorang kawan pada ulang tahun saya ditahun 2014 lalu. ia mengatakan bahwa kisah Andrei akan sangat menginspirasi orang-orang seperti saya yang memiliki impian yang begitu besar namun terlalu ragu apakah impian tersebut dapat di wujudkan atau tidak. Awalnya saya berpikir bahwa buku ini adalah buku tentang panduan travelling atau buku yang mengisahkan pengalaman-pengalamn lucu selama travelling, ternyata saya salah. Buku ini tentang mimpi, tentang mewujudkan mimpi, tentang meraih mimpi tanpa kenal kata putus asa. Andrei dan kisahnya yang luar biasa menginspirasi para pembaca, bahwa bermimpilah setinggi-tinggi nya dan jangan lupa untuk berusaha mewujudkan mimpi tersebut. ada begitu banyak cara untuk mewujudkan mimpi kita selama kita tidak pernah putus asa. Ada satu hal lagi yang saya pelajari dari sosok Andrei, yakni bersikap baik lah kepada siapapun dimana pun, karena perbuatan baik tidak pernah membuatmu rugi, perbuatan baik yang kau lakukan untuk org lain hanya akan kembali kepada diri mu suatu saat nanti. Buku ini begitu menginspirasi. tidak hanya bagi pembaca yang ingin merasakan adrenalin adventure saat travelling tp juga buku ini memberikan pembaca nya sesuatu saat para pembaca selesai membaca nya. apakah sesuatu itu, sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran hidup. baca lah buku ini dan temukan pelajaran hidup yang menginspirasi dari Andrei

  7. 4 out of 5

    Sigit Wahono

    Sebenarnya, tahun lalu saya sudah punya buku ini cetakan 2009 yang diterbitkan secara independen, dengan judul Travellous: A Travel Journal. Sayang, buku itu dipinjam oleh pacar saya, dan belum dikembalikan sampe kami putus. Padahal buku itu saya dapatkan melalui hunting di beberapa toko buku dan hanya ada 1 itu saja di Surabaya.. Mengutip quote mas Andrei, "Bukankah segala yang terhadi tidak ada yang kebetulan ?" Semoga buku itu masih dia simpang, dan suatu saat saya akan mengambilnya kembali. Se Sebenarnya, tahun lalu saya sudah punya buku ini cetakan 2009 yang diterbitkan secara independen, dengan judul Travellous: A Travel Journal. Sayang, buku itu dipinjam oleh pacar saya, dan belum dikembalikan sampe kami putus. Padahal buku itu saya dapatkan melalui hunting di beberapa toko buku dan hanya ada 1 itu saja di Surabaya.. Mengutip quote mas Andrei, "Bukankah segala yang terhadi tidak ada yang kebetulan ?" Semoga buku itu masih dia simpang, dan suatu saat saya akan mengambilnya kembali. Sebuah kebetulan saya menemukan buku ini di toko buku, dan baru tahu kalo buku ini ternyata dicetak revisi oleh Bentang dengan isi dan tampilan baru. Dan sekali lagi, tinggal satu - satunya di toko tersbut (saya minta yang masih tersegel, tapi tinggal yang di display. Alur ceritanya yang ringan, apa adanya dengan berbagai kebetulan (keajaiban menurut saya) yang membuat kisah perjalanan penulis memang layak untuk di share dengan sesama. Banyak pelajaran yang akan kita ambil dari berbagai kejadian yang lucu, menegangkan dan menguras perasaan. Seperti terhipnotis, saya merasa tak dapat berhenti untuk membacanya. Hingga sampai bagian akhir, saya penasaran cinta mana yang berhasil diraih dan dipilih oleh penulis..

  8. 5 out of 5

    rizki

    Awalnya aku mengira penggunaan kata `saya` sbg kata ganti subjek pertama-tunggal di dalam tulisan akan membuat tulisan tersebut terkesan kaku, tidak renyah. Namun, setelah aku membaca buku ini anggapan itu sirna sudah. :D Bahasa yg digunakan pada buku ini mungkin memang tidak `setinggi` Pramodya Ananta Toer. Buku ini juga tidak sarat akan kata-kata motivasi seperti karya Donny Dhirgantoro. Buku ini sangat `renyah`. Dan jangan sampai Anda berpikir buku dengan bahasa yg `renyah` hanya sebagai buku Awalnya aku mengira penggunaan kata `saya` sbg kata ganti subjek pertama-tunggal di dalam tulisan akan membuat tulisan tersebut terkesan kaku, tidak renyah. Namun, setelah aku membaca buku ini anggapan itu sirna sudah. :D Bahasa yg digunakan pada buku ini mungkin memang tidak `setinggi` Pramodya Ananta Toer. Buku ini juga tidak sarat akan kata-kata motivasi seperti karya Donny Dhirgantoro. Buku ini sangat `renyah`. Dan jangan sampai Anda berpikir buku dengan bahasa yg `renyah` hanya sebagai buku ketiga, keempat, atau kesekian kalinya yang Anda akan baca jika benar-benar sedang `nganggur`. Sayangnya, aku tidak melakukan itu. Penuturan kata-kata Andrei Budiman membuatku menyempatkan membaca bukunya sampai selesai. Satu hal lagi, sebagai buku Travel, buku ini sukses membawa pembacanya ingin menikmati berbagai petualangan yang dialami oleh si penulis. :D nb: beruntung sekali bang Andrei diperebutkan cewek-cewek bule di sana.. :p

  9. 4 out of 5

    Rd. Sya'rani

    cerita berlatar belakang petualangan nyata seorang Andrei alias Rei, penulis buku ini, kala menjelajah benua Eropa ini, sangat mengasikkan untuk dibaca. Gaya bahasanya enak diikuti, tambahan detil sana sini, dibalut cerita cinta malu-malu dengan tiga gadis *buset* menambah jalan cerita tak terasa diikuti sampai lembar terakhir. Berbagai keberuntungan yang iya temui sepanjang perjalanan, ditambah keyakinannya menggapai impian adalah sesuatu yang seharusnya kita punyai, berani bermimpi dan lebih be cerita berlatar belakang petualangan nyata seorang Andrei alias Rei, penulis buku ini, kala menjelajah benua Eropa ini, sangat mengasikkan untuk dibaca. Gaya bahasanya enak diikuti, tambahan detil sana sini, dibalut cerita cinta malu-malu dengan tiga gadis *buset* menambah jalan cerita tak terasa diikuti sampai lembar terakhir. Berbagai keberuntungan yang iya temui sepanjang perjalanan, ditambah keyakinannya menggapai impian adalah sesuatu yang seharusnya kita punyai, berani bermimpi dan lebih berani lagi mewujudkannya. Dan seorang Rei berhasil untuk itu.

  10. 5 out of 5

    dwi kurniawan saputro

    Buku ini menjaga asa saya untuk mengunjungi kota-kota di belahan Eropa. Saya ingin melihat Lucerne, ingin merasakan hawa sejuk dan keindahan hijaunya hutan di saja. Saya selesai membaca ini dalam 1,5 hari saja, kemudian mengulanginya...dengan menghayati dan memakan waktu 2 hari. Keduanya saya lalukan pada tahun 2012. Buku ini saya rekomendasikan kepada beberapa teman, mereka semua langsung jatih cinta pada Rei...

  11. 5 out of 5

    Adinda Putri

    Baca buku ini makin bikin penasaran rasanya backpacker ke luar negeri. Yg paling penting sih sbenernya nyali, dan kemampuan bahasa *duit juga lah* haha. Tapi pas baca beberapa bagian kadang suka mikir, masa iya sih bisa banget backpacker tapi kok rasanya 'aman-aman' terus ya? atau bagian ngga enak nya mungkin emang ngga terlalu diceritain hehe :v tapi initinya sih buku ini keren!! Baca buku ini makin bikin penasaran rasanya backpacker ke luar negeri. Yg paling penting sih sbenernya nyali, dan kemampuan bahasa *duit juga lah* haha. Tapi pas baca beberapa bagian kadang suka mikir, masa iya sih bisa banget backpacker tapi kok rasanya 'aman-aman' terus ya? atau bagian ngga enak nya mungkin emang ngga terlalu diceritain hehe :v tapi initinya sih buku ini keren!!

  12. 5 out of 5

    Ibnu Nashr

    Ga bisa dipungkiri bahwa novel ini menarik. pembawaan ceritanya yang seru ditambah penggunaan kalimat-kalimatnya yang juga sederhana berhasil membuat saya berani merating 5 bintang. kalau slot ratingnya ada 6 saya juga bakal vote 6. kalau ada 7 saya juga pilih 7 dan seterusnya hingga kiamat. pokoknya kompor mleduk lah bro.

  13. 4 out of 5

    Chen An

    Seneng dan exciting saat menemukan buku Travellous. Sebagai traveler sejati *cie,, membaca buku tentang perjalanan selalu bikin tergoda,, :P Travellous: Kisah perjalanan + kisah percintaan yang diramu sekaligus, heheh,, manis. Bagian yang paling ku suka adalah hitchhiker naah, seru sekali,, Sukaaa aah *jempol

  14. 5 out of 5

    Christina

    Travellous adalah wujud mimpi seorang Andrei. Dengan gaya bahasa yang ringan dalam menuturkan kisah petualangan ke benua Eropa, Andrei berusaha mengungkapkan apa yang di alami pada sisi kehidupan seorang pemimpi yang berhasil membuatnya nyata. Travellous mengajak pembacanya untuk tidak takut bermimpi serta membuatmu bertekad mewujudkan mimpi itu. Selamat membaca.

  15. 5 out of 5

    Arlisa Yuliawati

    Buku yang tidak hanya bercerita tentang travelling, tapi juga kisah yang dialami penulis selama berkelana di Eropa. Bahasanya yang sederhana seperti bahasa novel fiksi membuatnya lebih seru. Tidak membosankan, ceritanya santai karena memang sebuah catatan perjalanan. Nano nano istilahnya, dalam satu buku, saya bisa tertawa terbahak-bahak, tersipu, dan juga jadi sedih.

  16. 5 out of 5

    Siti Zulaichah

    ini catatan perjalanan yang keren. penulis mempunyai kreativitas yang memukau, mampu memasukkan cerita cinta, memberi kejutan dan rasa penasaran pada pembaca, dan yang pasti membuat iri pembaca untuk keliling eropa.

  17. 4 out of 5

    Nur Islah

    Berhasil bikin saya ngikik berkali-kali. Andrei berhasil memikat saya dengan isi bukunya yang komplit; ada kisah cinta, sedih, haru, lucu. Sekali baca langsung selesai dalam beberapa jam saja. Suka.

  18. 4 out of 5

    Deary Hoesin

    punya buku ini persis setelah balik dari setahun di Eropa, 2011. tetapi saya tidak pernah benar-benar selesai membacanya karena buku yang saya punya, beberapa halaman nya hilang (kesalahan percetakan nih!) :-p

  19. 5 out of 5

    Nurnajmi

    kadang suka kadang nggak suka. yang jelas kalau mau travelling, buku ini mungkin cuma bisa ngebantu sedikit. karena andrei lebih banyak bicara tentang kisah perjalanannya mengikuti workshop di prancis, yang sebenaranya lebih menarik daripada cerita jalan-jalannya hehehehe....

  20. 5 out of 5

    Hartono Rakiman

    Bagi yang belum sempat baca buku ini, bisa ngintip dulu versi "old version"-nya. Buku indie ini kemudian diterbitkan ulang oleh B first, gabungan dari 2 buku. Ngintip di Rumah Baca Yuuuuks: http://rumahbaca.wordpress.com/2010/1... Bagi yang belum sempat baca buku ini, bisa ngintip dulu versi "old version"-nya. Buku indie ini kemudian diterbitkan ulang oleh B first, gabungan dari 2 buku. Ngintip di Rumah Baca Yuuuuks: http://rumahbaca.wordpress.com/2010/1...

  21. 4 out of 5

    Inly Campbell

    baca ni buku pas lagi travelling kemarin... jujur ni buku bisa bikin orang lain ikutan mimpi termasuk gua.. Jadi berani mimpi one day i will be ti the place i want, no matter what.. and ikut terharu waktu baca beberapa bab pertama.. will look for another book from Andrei..

  22. 4 out of 5

    Febriani

    Cara bercerita yg sangat menarik... bikin pengen ktempat2 itu....

  23. 4 out of 5

    Aditia wiratama

    buku yang menarik.. kumpulan kisah andrei selama berkeliling ke luar negeri yang diselipkan dengan kisah-kisah fiksi yang berbobot. menarik untuk dibaca dan tidak membuat bosan :D

  24. 4 out of 5

    Sulis Peri Hutan

    bagus, palin suka bgian backpacker bareng Jules trus ketemu Bicycle traveler yg baik hati. tapi nih, akhirnya si Andrei sama Ling atau Jules??? :)

  25. 4 out of 5

    Fadhilatul

    well, awal2 sih suka. tapi lama2.. emm entah aku.. emm bosen aja. jadi akhirnya cuma bisa skip-skip-skip-skipppp! dan cuma lihat-lihat fotonya saja. hehe

  26. 4 out of 5

    Clara A

    What a great story!

  27. 5 out of 5

    Nursih Dwi

    Ya Allaaaaaah... saya juga mau ke Eropaaaaaah....

  28. 4 out of 5

    Vincentius Yogi Fitra Firdaus

    Sangat menginspirasi pembaca untuk berani mewujudkan mimpi - mimpi mereka.

  29. 5 out of 5

    Fazlur J. Rahman

    keren! jadi pengen ke Eropa :p

  30. 4 out of 5

    Kang Sole

    Buku yang menarik, menggelitik dan menyenangkan. Tidak jarang saya ngakak banget ketika sampai halaman-halaman tertentu.

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.